HealthcareUpdate News

“Hewan Adalah Teman, Bukan Makanan” Viral: Mungkinkah Nutrisi Seimbang Tanpa Pangan Hewani?

Ungkapan “hewan adalah teman, bukan makanan” semakin populer di media sosial seiring tren go-vegan, dan banyak yang bertanya apakah nutrisi seimbang bisa terpenuhi tanpa konsumsi pangan hewani.

Belakangan ini, ungkapan “hewan adalah teman, bukan makanan” ramai diperbincangkan di media sosial seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesejahteraan hewan dan pola hidup plant-based. Tren ini tidak hanya mengundang diskusi etis, tetapi juga berujung pada pertanyaan penting: apakah mungkin mencukupi kebutuhan nutrisi seimbang tanpa mengonsumsi pangan hewani?

Gaya hidup vegan dan plant-based telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda yang peduli masalah etika hewan, lingkungan, dan kesehatan. Dalam pola makan vegan, semua produk hewani seperti daging, telur, dan susu diganti dengan sumber nabati seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan polong-polongan.

Menurut ahli gizi, pada dasarnya nutrisi dari pangan nabati dapat memenuhi kebutuhan tubuh selama direncanakan dengan matang. Sumber karbohidrat kompleks dari biji-bijian utuh, protein dari kacang-kacangan dan polong, serta lemak sehat dari alpukat atau minyak nabati bisa dipadukan untuk menciptakan pola makan seimbang yang kaya serat, vitamin, dan mineral.

Namun, ada beberapa nutrisi yang perlu diperhatikan lebih seksama oleh mereka yang memilih pola hidup tanpa hewani. Misalnya, vitamin B12, yang umumnya ditemukan dalam produk hewani seperti daging dan produk susu, tidak tersedia secara alami dalam sumber nabati. Untuk itu, vegan biasanya perlu mengandalkan suplemen B12 atau makanan yang diperkaya (fortified foods) untuk mencegah kekurangan nutrisi penting ini. Selain itu, asupan zat besi dan kalsium dari nabati, meskipun tersedia, sering kali memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah dibanding dari hewani sehingga memerlukan perencanaan menu yang lebih cermat.

Read More  Mahasiswa ITS Kembangkan SleepCare, Matras Cerdas Deteksi Gangguan Tidur Seperti Sleep Apnea

Ahli kesehatan juga menekankan pentingnya kombinasi makanan yang tepat agar semua asam amino esensial bisa terpenuhi. Misalnya, kombinasi beras dengan kacang-kacangan dapat mencukupi kebutuhan protein lengkap, sementara biji-bijian seperti chia atau flaxseed menjadi sumber lemak omega-3 nabati yang baik.

Selain aspek nutrisi, tren “hewan adalah teman, bukan makanan” juga dipicu oleh kesadaran akan isu keberlanjutan dan lingkungan. Produksi pangan hewani diketahui menyumbang emisi gas rumah kaca dan menggunakan sumber daya air serta lahan yang lebih besar dibandingkan produksi pangan nabati. Karena itu, sebagian orang memandang perubahan pola makan sebagai kontribusi kecil terhadap keberlanjutan planet.

Meski begitu, pakar kesehatan menyatakan bahwa tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda berdasarkan usia, aktivitas fisik, kondisi medis, dan preferensi pribadi. Bagi sebagian orang, konsumsi daging atau produk hewani dalam jumlah moderat bisa tetap menjadi bagian dari pola makan seimbang jika dipadukan dengan cukup sayuran, buah, dan nutrisi lainnya.

Bagi mereka yang tertarik mencoba gaya hidup vegan atau plant-based, langkah pertama yang direkomendasikan adalah konsultasi dengan ahli gizi. Perencanaan menu yang baik harus mempertimbangkan kebutuhan kalori, makro dan mikro nutrien khusus agar tidak terjadi defisiensi. Mengikuti komunitas atau sumber informasi terpercaya tentang nutrisi nabati juga bisa membantu dalam membangun kebiasaan makan yang lebih sehat dan etis.

Tren “hewan adalah teman, bukan makanan” jelas mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap konsumsi pangan, kesehatan, dan hubungan manusia dengan alam. Dengan informasi yang tepat dan perencanaan nutrisi yang benar, pola makan tanpa hewani pun bisa menjadi pilihan sehat yang bermakna — bukan sekadar slogan viral semata.

Back to top button