HealthcareUpdate News

Intermittent Fasting Jadi Tren Kesehatan: Bukan Sekadar Turunkan Berat Badan

Intermittent fasting bukan hanya populer untuk menurunkan berat badan, tetapi juga mulai dilirik karena berbagai manfaat kesehatan lainnya yang didukung oleh berbagai penelitian.

Intermittent fasting (IF) — pola makan yang membatasi jendela waktu makan dan memperpanjang periode puasa — terus menjadi tren gaya hidup sehat di Indonesia dan dunia karena klaimnya yang menjanjikan berbagai manfaat bagi tubuh. Konsep ini melibatkan siklus berpuasa dan makan dalam jangka waktu tertentu, misalnya waktu makan 8 jam dan puasa 16 jam setiap hari.

Manfaat yang paling sering dibicarakan tentu saja adalah membantu menurunkan berat badan karena dengan jendela makan terbatas, asupan kalori harian sering menurun secara alami tanpa perlu menghitung setiap kalori yang dikonsumsi. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa intermittent fasting dapat meningkatkan sensitivitas insulin, membantu tubuh mengelola kadar gula dalam darah dengan lebih baik, yang berpotensi menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Tak hanya itu, IF juga dikaitkan dengan pengurangan peradangan dalam tubuh, suatu kondisi kronis yang dapat berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan seperti penyakit jantung. Beberapa studi menemukan bahwa periode puasa dapat menurunkan tingkat protein C-reaktif, yaitu salah satu penanda peradangan dalam darah.

Manfaat lain yang mulai banyak dibahas adalah efek positif pada kesehatan jantung, termasuk potensi penurunan tekanan darah dan kolesterol, serta dukungan terhadap fungsi metabolik yang sehat. Efek ini dipercaya berkaitan dengan perubahan hormon dan mekanisme metabolisme yang terjadi ketika tubuh beradaptasi dengan fase puasa dan makan tertentu.

Lebih jauh lagi, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa IF dapat mendukung kesehatan otak. Puasa berkala diyakini mampu meningkatkan produksi faktor neurotropik yang berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan sel otak, sekaligus berpotensi membantu fungsi kognitif seperti daya ingat.

Read More  Penelitian Temukan 6 Kebiasaan Sederhana yang Bisa “Membuat Otak 8 Tahun Lebih Muda”

Meski banyak manfaatnya, para ahli kesehatan tetap mengingatkan bahwa intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang. Beberapa orang mungkin mengalami efek samping ringan seperti kelelahan, sakit kepala, atau gangguan pencernaan bila baru mulai berpuasa dalam jangka waktu panjang, dan IF juga perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga medis atau profesional sebelum mencoba pola makan ini sangat disarankan.

Dengan popularitasnya yang terus meningkat, intermittent fasting kini bukan sekadar tren diet, tetapi menjadi pendekatan gaya hidup yang banyak dipilih untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan — selama dijalankan secara bijak dan sesuai kebutuhan pribadi.

Back to top button