TechnoUpdate News

Jasa Marga Targetkan 700 Gerbang Tol Nirsentuh Beroperasi pada 2026, Bisakah Ini Mengurai Kemacetan?

Jasa Marga menargetkan 700 gerbang tol nirsentuh beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari transformasi digital jalan tol yang diharapkan mampu memangkas antrean kendaraan dan mengurangi kemacetan.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk menargetkan 700 gerbang tol nirsentuh atau Open Road Tolling (ORT) beroperasi di seluruh jaringan jalan tol Indonesia pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi digital sistem pembayaran tol yang diharapkan mampu memangkas antrean kendaraan dan mengurangi kemacetan, khususnya di pintu masuk dan keluar tol.

Gerbang tol nirsentuh memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti untuk transaksi pembayaran. Dengan teknologi ini, proses pembayaran dilakukan otomatis melalui perangkat elektronik yang terpasang di kendaraan, sehingga waktu transaksi bisa dipangkas secara signifikan dibanding sistem konvensional yang mengharuskan kendaraan berhenti.

Jasa Marga menilai penerapan ORT menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kelancaran arus lalu lintas, terutama pada jam sibuk dan periode arus mudik maupun balik. Antrean panjang di gerbang tol selama ini kerap menjadi titik kemacetan yang berdampak pada keseluruhan ruas jalan tol.

Namun, para pakar transportasi mengingatkan bahwa gerbang tol nirsentuh bukan satu-satunya jawaban atas persoalan kemacetan. Kris Ade Sudiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Tol Indonesia (ATI), menilai sistem pembayaran nirsentuh memang dapat mengurangi waktu tunggu di gerbang tol, tetapi kemacetan tidak semata disebabkan oleh proses transaksi.

Menurut Kris, kepadatan lalu lintas di jalan tol juga dipengaruhi oleh kapasitas ruas jalan, konektivitas antarjaringan jalan, serta kondisi lalu lintas di jalan arteri yang terhubung langsung dengan pintu tol. Jika faktor-faktor tersebut tidak dibenahi secara bersamaan, potensi kemacetan tetap bisa terjadi meski sistem pembayaran sudah modern.

Read More  Kebakaran Besar di Penjaringan: Ribuan Warga Mengungsi, Upaya Pencegahan Jadi Sorotan

“Pembayaran nirsentuh bisa mengurangi antrean, tetapi kemacetan di jalan tol itu persoalan sistemik. Harus ada pengelolaan lalu lintas yang terintegrasi, bukan hanya mengandalkan teknologi transaksi,” ujar Kris dalam sejumlah kesempatan diskusi transportasi nasional.

Selain itu, efektivitas gerbang tol nirsentuh juga sangat bergantung pada kesiapan pengguna jalan. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci agar pengendara memahami cara kerja sistem, memasang perangkat dengan benar, serta memastikan saldo atau sistem pembayaran aktif sebelum memasuki ruas tol. Tanpa kesiapan pengguna, potensi gangguan justru bisa muncul di lapangan.

Dari sisi infrastruktur, keandalan sistem teknologi juga menjadi perhatian. Sistem pembacaan data kendaraan, jaringan komunikasi, serta validasi transaksi harus berjalan stabil dan akurat agar tidak menimbulkan hambatan baru. Integrasi dengan sistem manajemen lalu lintas berbasis data real-time juga dinilai penting untuk memaksimalkan manfaat ORT.

Meski masih memiliki tantangan, target pengoperasian 700 gerbang tol nirsentuh pada 2026 dinilai sebagai langkah besar dalam modernisasi layanan jalan tol di Indonesia. Jika diiringi peningkatan kapasitas jalan, pengelolaan lalu lintas yang lebih cerdas, serta perubahan perilaku pengguna jalan, sistem ini berpotensi memberikan dampak positif dalam mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan berkendara.

Transformasi gerbang tol nirsentuh pun menjadi bagian dari upaya lebih luas membangun sistem transportasi nasional yang efisien, aman, dan sesuai dengan perkembangan teknologi, sekaligus menjawab tuntutan mobilitas masyarakat yang kian tinggi.

Back to top button