Kapan Anak Siap Berpuasa? Psikolog Sarankan Mulai Usia 7 Tahun
Mengajarkan anak berpuasa sejak dini tidak hanya tentang menahan lapar, tapi membangun pemahaman dan pengalaman positif yang tepat sesuai tahap perkembangan anak.
Menjelang Ramadan, banyak orang tua menanyakan kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan puasa kepada anak. Para psikolog anak dan pendidikan menyarankan bahwa anak dapat mulai dikenalkan dengan puasa sejak usia sekitar tujuh tahun secara bertahap dan menyenangkan, bukan langsung dipaksakan penuh seharian.
Salah satu psikolog anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, S.Psi., M.Psi., mengatakan bahwa pendekatan dalam mengajarkan puasa harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani. âMisalnya ânanti kita buka puasa makan apa yukâ. Jadi anak itu juga happy, apalagi saat ngabuburit bisa diberikan permainan yang menyenangkan,â ujar Sani. Ia menekankan bahwa orang tua tidak boleh memberikan ancaman atau hukuman ketika anak belajar puasa, karena hal itu bisa memicu perasaan negatif dan ketakutan terhadap puasa.
Selain itu, psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menyebutkan bahwa memberikan pemahaman terlebih dahulu soal makna puasa sangat penting. âCara mempersiapkan anak berpuasa adalah dengan mendiskusikan terlebih dahulu dengan anak kita mengapa puasa itu harus dilakukan. Pemahaman pada anak akan terjadi bukan dengan menasehati atau mendoktrin,â jelas Novi. Dia menekankan pentingnya membuat anak memahami manfaat puasa â baik secara spiritual maupun sosial â sehingga mereka merasa termotivasi dan bukan sekadar melakukannya karena perintah.
Para psikolog sepakat bahwa anak usia 7â8 tahun sudah berada pada tahap perkembangan kognitif yang lebih matang, sehingga mulai bisa memahami durasi waktu dan konsep menahan lapar. Pada tahap awal mengajarkan puasa, orang tua bisa membuat target bertahap, misalnya dari sahur sampai tengah hari atau hingga Ashar terlebih dahulu. Ini membuat pengalaman puasa pertama menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi anak.
Proses ini juga bisa diperkaya dengan rutinitas keluarga â seperti sahur bersama, merancang menu buka puasa bersama, atau kegiatan ringan sambil menunggu waktu berbuka (ngabuburit) â supaya anak melihat puasa sebagai pengalaman positif. Penguatan melalui pujian ketika anak berhasil mencapai target kecil juga sangat dianjurkan karena dapat meningkatkan motivasi mereka untuk mencoba lebih jauh.
Para ahli menekankan bahwa pendekatan yang terlalu kaku atau paksaan justru bisa membuat anak cepat putus asa. Karena itu, memahami kemampuan fisik dan kesiapan emosional anak menjadi kunci utama dalam proses belajar puasa sejak dini.
Mengajarkan puasa bukan hanya soal menahan lapar â ini juga kesempatan emas untuk menanamkan nilai empati, disiplin, dan rasa syukur sejak kecil. Dengan pendekatan yang tepat dan penuh dukungan, pengalaman belajar puasa bisa menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang menyenangkan bagi seluruh keluarga.





