HealthcareUpdate News

Kasus Campak di Indonesia Meningkat Tajam, 21 KLB Terkonfirmasi pada 2026

Kasus suspek campak di Indonesia melonjak drastis pada awal 2026, dengan 8.224 kasus dan 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) terdeteksi

Kasus campak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia setelah data Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menunjukkan peningkatan drastis jumlah suspek sejak awal tahun. Tren ini terlihat jelas bila dibandingkan dengan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir, di mana jumlah kasus suspek melonjak lebih dari tiga kali lipat.

Berdasarkan laporan resmi Kemenkes, sepanjang Januari 2026 jumlah kasus suspek campak mencapai 7.060 orang, meningkat dari kisaran 2 ribu pada Januari 2024 dan sekitar 5 ribu pada Januari 2025. Hingga minggu ke-7 tahun ini, jumlah suspek tercatat 8.224 kasus, dengan 572 di antaranya sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

Jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang terdeteksi juga masih tinggi, dengan total 21 KLB suspek di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi. Sebanyak 13 KLB telah terkonfirmasi di laboratorium di sembilan wilayah pada enam provinsi.

Meskipun jumlah kasus meningkat, pemerintah mencatat angka kematian akibat campak relatif rendah. Dari total kasus suspek di awal 2026, tercatat empat kematian, menghasilkan Case Fatality Rate (CFR) sekitar 0,05 persen — lebih rendah dibanding angka CFR 0,1 persen pada 2025 dan setara atau lebih baik dari angka yang sering ditemukan di beberapa negara maju.

Data historis menunjukkan bahwa sepanjang 2025, total kasus suspek campak mencapai sekitar 63.769 kasus, di mana lebih dari 11 ribu diperkuat melalui konfirmasi laboratorium. Selama periode itu juga terjadi 116 KLB campak yang tersebar di 16 provinsi, dengan angka kematian (69 kasus) dan CFR sekitar 0,1 persen.

Read More  Motor Matik Rawan Rem Blong, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa tingkat penularan campak sangat tinggi, sehingga peningkatan kasus perlu ditangani dengan respons cepat melalui surveilans yang kuat dan pelaporan real time. Data peningkatan kasus dari tahun ke tahun mendorong pemerintah untuk terus memperkuat sistem kewaspadaan dini dan respons epidemik di seluruh wilayah Indonesia.

Provinsi dengan jumlah KLB terbanyak di awal 2026 antara lain Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Sementara pada 2025, provinsi yang paling sering melaporkan KLB termasuk Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Lonjakan kasus campak di Indonesia ini juga mendapat perhatian internasional. Beberapa negara seperti Australia sempat melaporkan kasus impor dari Indonesia, meskipun kasus tersebut sudah dinyatakan sembuh. Hal ini mempertegas perlunya koordinasi lintas negara dalam memantau penyakit yang mudah menular ini.

Pihak berwenang menekankan pentingnya imunisasi campak-rubella (MR) bagi anak untuk mencegah penularan. Pemerintah melakukan penguatan imunisasi rutin dan imunisasi “kejar” di wilayah dengan cakupan rendah, serta memperkuat surveilans dan tata laksana kasus melalui pelacakan, isolasi, dan penanganan medis yang lebih cepat.

Kenaikan tajam kasus campak ini menjadi sinyal penting bahwa meskipun angka kematian terbilang rendah, penyakit yang sangat menular ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat dan memerlukan kerja sama luas dari masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Back to top button