HealthcareUpdate News

Kebiasaan Sepele Ini Bisa Bikin Anak Tumbuh Pendek, Orang Tua Sering Tak Menyadarinya

Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele justru dapat menghambat pertumbuhan dan membuat anak berisiko mengalami tubuh pendek atau stunting.

Pertumbuhan tinggi badan anak tidak hanya dipengaruhi faktor genetik, tetapi juga pola hidup yang dijalani sejak usia dini. Dokter spesialis anak konsultan endokrinologi, dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), mengingatkan bahwa beberapa kebiasaan yang sering dianggap biasa ternyata dapat mengganggu proses pertumbuhan anak.

Salah satu kebiasaan yang sering luput dari perhatian adalah kurangnya paparan sinar matahari pagi. Banyak anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, bermain gawai, menonton televisi, atau beraktivitas di ruang tertutup sehingga tubuh kekurangan vitamin D yang berperan penting dalam pembentukan tulang.

Menurut dr. Aman, kekurangan vitamin D dapat berdampak pada pertumbuhan tulang dan membuat tinggi badan anak tidak berkembang optimal. Karena itu, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup serta asupan nutrisi yang mendukung kesehatan tulang.

Kurang Tidur Bisa Ganggu Hormon Pertumbuhan

Selain kurang aktivitas luar ruangan, kebiasaan tidur larut malam juga menjadi faktor yang kerap diabaikan. Padahal, hormon pertumbuhan bekerja lebih aktif saat anak tidur nyenyak pada malam hari. Ketika waktu tidur berkurang, proses pertumbuhan dapat ikut terganggu.

Dokter Aman menjelaskan anak usia sekolah idealnya tidur sekitar 8 hingga 10 jam per hari, sementara anak yang lebih kecil membutuhkan waktu tidur lebih panjang. Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi hormon pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara keseluruhan.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa produksi hormon pertumbuhan manusia atau growth hormone mencapai puncaknya pada fase awal tidur malam yang berkualitas. Karena itu, kebiasaan bermain gadget hingga larut malam berpotensi mengurangi waktu tidur sekaligus mengganggu kualitas istirahat anak.

Read More  Astra Financial Catat Transaksi Rp2,4 Triliun di GIIAS 2025

Selain faktor tidur, pola makan yang tidak seimbang juga menjadi penyebab utama gangguan pertumbuhan. Konsumsi makanan cepat saji berlebihan, minim protein hewani, serta kurang sayur dan buah dapat membuat kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi secara optimal.

Kementerian Kesehatan sebelumnya juga mengingatkan bahwa masalah anak bertubuh pendek tidak selalu disebabkan faktor keturunan. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda stunting, yaitu gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu lama. Dampaknya tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga produktivitas saat dewasa.

Karena itu, orang tua disarankan rutin memantau tinggi dan berat badan anak sesuai kurva pertumbuhan. Jika tinggi badan anak tidak bertambah sesuai usianya atau laju pertumbuhannya melambat, pemeriksaan ke dokter perlu dilakukan lebih awal agar penyebabnya bisa segera diketahui.

Para ahli menegaskan bahwa pencegahan tubuh pendek dan stunting sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, mulai dari memastikan anak cukup tidur, aktif bergerak di luar ruangan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, hingga rutin memantau tumbuh kembangnya.

Back to top button