Kematian Saat Olahraga Lari , Apa Saja Risiko yang Harus Diwaspadai?
Kasus dua pelari yang meninggal saat Siksorogo Lawu Ultra 2025 kembali mengingatkan pentingnya mengenali risiko kesehatan saat berolahraga lari, terutama di medan berat.
Kasus meninggalnya dua peserta Siksorogo Lawu Ultra 2025 di rute CemorosewuâGupak Menjangan membuat dunia lari kembali berduka. Panitia menyatakan rute akan dievaluasi, namun para ahli kesehatan menekankan bahwa insiden seperti ini juga bisa dipicu oleh risiko kesehatan yang kerap tidak disadari para pelari. Fenomena ini bukan yang pertama terjadi di dunia lari, terutama di ajang jarak menengah hingga ultratrail yang menuntut stamina tinggi, perubahan cuaca cepat, dan medan ekstrem.
Insiden tersebut menjadi alarm bagi para pelari maupun penyelenggara lomba bahwa olahraga yang terlihat sederhana tetap memiliki faktor risiko, khususnya bila dilakukan dalam durasi panjang, intensitas tinggi, atau di lingkungan alam seperti gunung dan hutan. Beberapa kondisi dapat meningkatkan ancaman, mulai dari kelelahan akut hingga gangguan jantung yang tidak terdeteksi.
Salah satu risiko yang sering tidak disadari adalah henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest). Kondisi ini bisa muncul tanpa gejala sebelumnya, terutama bila pelari memiliki masalah jantung tersembunyi seperti aritmia atau kelainan struktural. Lari jarak jauh meningkatkan beban kerja jantung secara signifikan, sehingga pelari dengan kondisi tertentu bisa mengalami penurunan fungsi jantung secara tiba-tiba, apalagi di jalur yang menanjak dan bertekanan tinggi.
Risiko lain yang harus diwaspadai adalah heat exhaustion dan heat stroke, yang dapat terjadi ketika tubuh tidak mampu mengatur suhu saat cuaca panas atau lembap. Jalur trail run dengan paparan matahari, minim ventilasi alami di jalur hutan, dan durasi lomba yang panjang dapat mempercepat dehidrasi. Ketika tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar, sirkulasi darah menurun dan fungsi organ bisa terganggu hingga menyebabkan kolaps.
Selain itu, pelari ultratrail juga rentan mengalami hiponatremia, yaitu kondisi kekurangan natrium karena terlalu banyak minum air tanpa elektrolit. Gejalanya sering tidak spesifikâmual, pusing, linglungânamun bisa berujung fatal jika tidak segera ditangani. Ajang di medan gunung, dengan perubahan suhu ekstrem dan durasi berlari yang panjang, membuat risiko ini lebih tinggi.
Di sisi lain, kelelahan ekstrem (fatigue) dapat memicu disorientasi, hilang keseimbangan, hingga kecelakaan di jalur teknis seperti tanjakan curam, akar pohon, dan bebatuan. Dalam konteks Siksorogo Lawu Ultra, rute berlika-liku dengan elevasi tajam bisa menjadi tantangan berat bagi pelari yang tidak siap secara fisik maupun mental.
Untuk mencegah kejadian serupa, pelari disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama tes jantung seperti EKG atau ekokardiografi bagi mereka yang sering mengikuti lomba jarak jauh. Pelari juga perlu memahami batas tubuh sendiri, memastikan hidrasi yang tepat (air dan elektrolit), tidak memaksakan diri saat muncul gejala aneh, dan menyesuaikan strategi berlari dengan medan serta cuaca.
Penyelenggara juga diharapkan memperkuat prosedur keselamatan, mulai dari pemetaan risiko jalur, ketersediaan tenaga medis di titik krusial, hingga edukasi pra-lomba terkait risiko kesehatan. Evaluasi terhadap rute Siksorogo Lawu Ultra menjadi langkah awal yang dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh agar faktor keselamatan bisa ditingkatkan.
Kasus terbaru ini menjadi pengingat bahwa olahraga lari tetap memerlukan kesiapan fisik, pemahaman risiko, dan manajemen keselamatan yang matangâbaik oleh pelari maupun penyelenggaraâagar hobi menyehatkan ini tidak berakhir dengan tragedi.





