HealthcareUpdate News

Kemenkes Siapkan Imunisasi Heksavalen Baru, Satu Vaksin Lindungi Anak dari Enam Penyakit Sekaligus

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan imunisasi heksavalen baru yang memungkinkan anak terlindungi dari enam penyakit berbahaya hanya dengan satu suntikan, dan ditargetkan diterapkan secara nasional mulai 2026.

Kementerian Kesehatan RI sedang mematangkan implementasi imunisasi heksavalen, vaksin kombinasi yang dirancang untuk mencegah enam penyakit sekaligus dalam satu kali suntikan bagi bayi dan balita. Vaksin ini merupakan gabungan antigen DPT-HB-Hib-IPV yang akan diberikan sebagai bagian dari imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Direktur Imunisasi Kemenkes RI Indri Yogyaswari menjelaskan, terobosan imunisasi heksavalen bukan terletak pada kandungan vaksinnya, melainkan pada cara pemberiannya yang dibuat lebih sederhana dan ramah bagi anak.

“Isi vaksinnya bukan hal yang baru, cuma pemberiannya itu dicarikan terobosan. Sehingga diharapkan lebih mudah pemberiannya pada anak-anak. Yang awalnya dari dua suntikan, menjadi satu suntikan,” ungkap Indri.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap proses imunisasi menjadi lebih efisien, mengurangi rasa nyeri akibat suntikan berulang, serta meningkatkan kepatuhan orang tua dalam melengkapi imunisasi dasar anak.

Cegah Enam Penyakit Berbahaya Sekaligus

Secara medis, vaksin heksavalen memberikan perlindungan terhadap enam penyakit serius yang berisiko tinggi pada bayi dan anak, yakni difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe b (Hib) yang dapat menyebabkan meningitis, serta polio yang berpotensi menimbulkan kelumpuhan permanen.

Kombinasi ini dinilai sangat efektif karena anak mendapatkan perlindungan luas dalam waktu lebih singkat, sekaligus membantu sistem kesehatan dalam menjaga cakupan imunisasi tetap optimal.

Penerapan imunisasi heksavalen diyakini membawa manfaat besar, baik bagi individu maupun masyarakat luas. Selain melindungi anak dari penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I), vaksin ini juga berkontribusi pada terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) yang penting untuk mencegah wabah.

Read More  Tragedi Air India Picu Ketakutan Terbang, Psikolog Ungkap Cara Atasi Trauma

Dengan jadwal imunisasi yang lebih sederhana, risiko anak tertinggal imunisasi juga dapat ditekan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang menantang.

Sudah Diterapkan di Sembilan Provinsi

Saat ini, imunisasi heksavalen telah dilaksanakan secara terbatas di sembilan provinsi, yaitu DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya.

Kemenkes menegaskan, pelaksanaan imunisasi heksavalen masih dilakukan secara bertahap sebelum diterapkan secara nasional pada 2026.

“Pemberian imunisasi heksavalen dilakukan secara bertahap sampai nantinya akan dilaksanakan secara nasional mulai tahun 2026,” jelas Indri.

Imunisasi heksavalen dapat diberikan di berbagai fasilitas layanan kesehatan yang menyediakan imunisasi. Tidak hanya di Puskesmas dan Posyandu, tetapi juga di fasilitas kesehatan lainnya.

“Imunisasinya bisa di banyak tempat, selama tempat itu menyediakan layanan imunisasi. Puskesmas, posyandu itu pasti, di luar itu bisa di faskes lainnya, cuma harus tetap membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk mencatat dan tracking seberapa jauh imunisasinya,” tandas Indri.

Buku KIA menjadi dokumen penting untuk memastikan pencatatan imunisasi anak berjalan rapi dan berkelanjutan.

Bagaimana dengan Harga Vaksin?

Di layanan kesehatan swasta atau klinik mandiri, vaksin heksavalen umumnya memiliki harga di atas Rp1 juta per dosis karena merupakan vaksin kombinasi dengan teknologi tinggi. Namun, dalam skema program imunisasi nasional, pemerintah menargetkan vaksin ini dapat diberikan secara gratis atau bersubsidi sesuai jadwal imunisasi dasar bayi.

Dengan kehadiran imunisasi heksavalen, Kemenkes berharap kualitas perlindungan kesehatan anak Indonesia semakin meningkat. Satu suntikan yang mampu mencegah enam penyakit dinilai sebagai solusi strategis untuk meningkatkan cakupan imunisasi, menekan angka penyakit infeksi, dan mencegah kecacatan maupun kematian yang sebenarnya bisa dihindari.

Read More  Inovasi Terapi Sel di Indonesia Raih Sertifikasi CPOB

Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari fasilitas kesehatan dan memastikan imunisasi anak dilakukan tepat waktu demi kesehatan jangka panjang generasi mendatang.

Back to top button