Kemenkes Soroti Budaya Mager, Bandingkan Aktivitas Fisik Warga RI dan Singapura
Kementerian Kesehatan menyatakan mayoritas masyarakat Indonesia masih kurang aktivitas fisik atau sering disebut “mager”
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkap bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia tergolong kurang melakukan aktivitas fisik dalam keseharian, sehingga menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Pernyataan ini disampaikan saat membahas data dari program Cek Kesehatan Gratis yang menunjukkan bahwa fenomena sedentary lifestyle atau “mager” masih menjadi tantangan besar kesehatan publik.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa kebiasaan kurang bergerak bukan hanya terlihat di ibu kota seperti Jakarta, tetapi juga mencerminkan tren nasional. Ia lantas mengajak masyarakat untuk membandingkan gaya hidup ini dengan masyarakat di negara tetangga seperti Singapura, yang terkenal lebih aktif berjalan kaki meskipun memiliki iklim tropis yang serupa dengan Indonesia.
Menurut Nadia, tingginya angka “mager” ini tercatat berdasarkan pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis yang telah diikuti puluhan juta peserta di seluruh Indonesia. Meski Indonesia memiliki program kesehatan yang luas seperti CKG, kebiasaan duduk terlalu lama, minim olahraga, serta gaya hidup serba cepat membuat banyak orang tidak mencapai standar aktivitas fisik yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung, metabolisme, dan kebugaran tubuh.
Perbandingan dengan Singapura yang masyarakatnya cenderung lebih suka berjalan kaki menunjukkan adanya gap budaya aktivitas fisik antara kedua negara. Kemenkes mendorong masyarakat agar mulai rutin melakukan aktivitas sederhana seperti jalan cepat minimal 30 menit per hari atau mengikuti olahraga ringan secara teratur, demi mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi yang dipicu oleh gaya hidup sedentari.
Kemenkes menilai bahwa perubahan kebiasaan dari “mager” menjadi aktif bergerak memerlukan dukungan lingkungan yang lebih baik, edukasi yang terus dilakukan, serta motivasi kuat dari individu itu sendiri untuk menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan.





