HealthcareUpdate News

Leukemia pada Anak: Kisah Devin di Bogor dan Peringatan bagi Orang Tua

Kisah Devin, bocah 7 tahun asal Bogor yang didiagnosis leukemia, menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk mewaspadai gejala awal kanker darah pada anak

Perjuangan Devin, anak laki-laki berusia 7 tahun yang kini menjalani pengobatan leukemia, menyentuh perhatian publik. Sang ayah membagikan perjalanan awal gejala yang tampak ringan hingga akhirnya dokter memastikan diagnosis kanker darah. Kisah ini bukan hanya tentang satu keluarga, tetapi juga menjadi alarm bagi orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak.

Leukemia adalah kanker yang menyerang jaringan pembentuk darah, termasuk sumsum tulang. Pada kondisi ini, tubuh memproduksi sel darah putih abnormal yang berkembang tidak terkendali. Sel-sel ini kemudian menghambat produksi sel darah sehat, menyebabkan anak menjadi pucat, mudah lelah, rentan infeksi, serta mudah mengalami perdarahan.

Menurut dr. Robert Soetandio, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, leukemia pada anak sering kali diawali gejala yang tidak spesifik.

“Gejala awal leukemia bisa menyerupai penyakit umum seperti demam berulang, pucat, mimisan, atau mudah memar. Karena itu, orang tua perlu waspada bila keluhan terjadi terus-menerus dan tidak membaik,” jelasnya dalam wawancara yang dipublikasikan di laman kesehatan Orami.

Ia menambahkan bahwa penyebab leukemia pada anak umumnya bersifat multifaktorial, termasuk mutasi genetik yang terjadi secara spontan pada sel darah di sumsum tulang.

Gejala yang dialami Devin — seperti pucat berkepanjangan, cepat lelah, dan mimisan berulang — memang termasuk tanda yang sering muncul pada kasus leukemia anak. Namun karena gejalanya samar, tidak sedikit kasus baru terdeteksi setelah dilakukan pemeriksaan darah lengkap.

Read More  Pasar Kripto Tertekan di Awal Agustus, Bitcoin dan Ethereum Melemah

Dokter dr. Cece Alfalah, Sp.A(K), Spesialis Anak Konsultan Hematologi-Onkologi di RS Awal Bros Sudirman Pekanbaru, menjelaskan bahwa pada leukemia, sel darah putih abnormal menekan produksi sel darah merah dan trombosit.

“Akibatnya anak bisa mengalami anemia, mudah memar, perdarahan spontan, serta daya tahan tubuh yang menurun drastis,” jelasnya dalam wawancara media lokal.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan darah dan analisis sumsum tulang atau bone marrow puncture biasanya diperlukan. Penanganan kemudian dilakukan melalui kemoterapi dalam beberapa tahap yang dapat berlangsung hingga dua sampai tiga tahun, tergantung jenis leukemia dan respons pasien.

Sorotan pada Pola Makan Instan

Dalam unggahan yang viral, ayah Devin juga menyinggung kekhawatiran terhadap konsumsi makanan instan dan ultra-processed food (UPF) yang kerap menjadi bagian dari pola makan anak masa kini. Meski demikian, para dokter menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan makanan instan secara langsung menyebabkan leukemia.

Namun pola makan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh tetap berisiko terhadap kesehatan secara umum. Diet rendah nutrisi dapat memicu obesitas dan peradangan kronis yang dalam jangka panjang memengaruhi sistem imun.

Para ahli menekankan bahwa leukemia pada anak biasanya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Kombinasi faktor genetik, lingkungan, serta kondisi biologis tertentu menjadi bagian dari proses yang kompleks.

Deteksi Dini Sangat Penting

Meski terdengar menakutkan, angka kesembuhan leukemia anak — khususnya Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL), jenis yang paling sering terjadi — kini cukup tinggi jika terdeteksi dini dan ditangani secara tepat.

Orang tua diimbau segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami:

  • Pucat dan lemah berkepanjangan
  • Demam berulang tanpa sebab jelas
  • Mimisan atau mudah memar
  • Nyeri tulang atau sendi
  • Penurunan berat badan drastis
Read More  Kebocoran Data Mahasiswa Jadi Sorotan, Kampus Diminta Perkuat Keamanan Digital

Kisah Devin menjadi pengingat bahwa kewaspadaan dan pemeriksaan dini dapat menyelamatkan nyawa. Selain menjaga pola makan seimbang dan gaya hidup sehat, kepekaan terhadap perubahan kondisi anak adalah langkah penting dalam mencegah keterlambatan diagnosis.

Back to top button