Lima Tahun Terakhir Harga Tanah Jabodetabek Meroket, Jakarta Tembus Rp16 Juta per Meter
Harga tanah di wilayah Jabodetabek kembali mengalami kenaikan, dengan Jakarta memimpin di posisi teratas mencapai rata-rata Rp 16,2 juta per meter persegi,
Harga tanah di Jakarta kembali mencatatkan rekor tertinggi. Rata-rata harga tanah di ibu kota kini telah menembus Rp16 juta per meter persegi, menjadikannya yang paling mahal di kawasan Jabodetabek. Kenaikan ini terjadi di tengah tren penguatan harga tanah yang konsisten dalam lima tahun terakhir, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di wilayah penyangga seperti Tangerang, Bekasi, dan Bogor–Depok.
Data pasar properti menunjukkan bahwa sejak 2021, harga tanah di Jabodetabek mengalami kenaikan stabil setiap tahun. Pada periode tersebut, rata-rata harga tanah di kawasan ini masih berada di kisaran Rp9–10 juta per meter persegi. Memasuki 2023, angkanya naik ke kisaran Rp11–12 juta per meter, dan terus bergerak naik hingga mencapai sekitar Rp12,7 juta per meter persegi pada 2025. Jakarta dan Tangerang menjadi dua wilayah dengan kenaikan paling agresif sepanjang periode tersebut.
Lonjakan harga tanah di Jakarta terutama dipicu oleh semakin terbatasnya ketersediaan lahan, tingginya aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan infrastruktur perkotaan. Di sisi lain, Tangerang muncul sebagai kawasan favorit baru karena kombinasi harga yang relatif lebih terjangkau dibanding Jakarta, akses infrastruktur yang semakin baik, serta masifnya pengembangan kawasan hunian dan kota mandiri.
Tren kenaikan harga tanah ini berjalan seiring dengan meningkatnya permintaan rumah tapak, khususnya di segmen menengah. Permintaan rumah dengan harga di kisaran Rp1 miliar hingga Rp2 miliar masih menunjukkan pertumbuhan positif, menandakan bahwa minat masyarakat untuk memiliki hunian tetap kuat meskipun harga tanah terus naik. Rumah tapak di wilayah penyangga Jakarta menjadi pilihan utama, terutama bagi keluarga muda dan pekerja yang mencari keseimbangan antara harga dan akses ke pusat kota.
Dalam lima tahun terakhir, perubahan pola kerja dan kebutuhan ruang hunian juga ikut memengaruhi pasar. Pandemi mendorong minat terhadap rumah dengan lahan lebih luas, sementara pembangunan jalan tol dan transportasi massal memperluas jangkauan kawasan hunian yang dianggap layak secara ekonomi. Faktor-faktor ini membuat kenaikan harga tanah tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi menyebar ke seluruh Jabodetabek.
Namun, kenaikan harga tanah yang berkelanjutan juga membawa tantangan serius terhadap keterjangkauan hunian. Bagi pembeli rumah pertama, terutama generasi muda, harga tanah yang semakin tinggi membuat kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dijangkau. Tanpa intervensi kebijakan dan penyediaan hunian yang lebih terjangkau, tekanan terhadap pasar perumahan diperkirakan akan terus meningkat.
Ke depan, pelaku industri memperkirakan tren kenaikan harga tanah di Jabodetabek masih akan berlanjut, meskipun dengan laju yang lebih moderat. Selama permintaan hunian tetap tinggi dan pasokan lahan terbatas, harga tanah diperkirakan akan terus menjadi faktor penentu utama dalam dinamika pasar properti di kawasan metropolitan terbesar di Indonesia.





