Uncategorized

Menko PMK: Anak-anak Jakarta Sulit Beralih dari Screen Time ke Green Time

Menko PMK Pratikno menyoroti tingginya screen time anak-anak Indonesia dan menyebut mereka kini semakin sulit beralih ke green time atau aktivitas nyata di luar layar.

Pemerintah kembali mengingatkan tingginya risiko kesehatan fisik dan mental akibat penggunaan gawai yang berlebihan di kalangan anak dan remaja. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyatakan bahwa anak-anak Indonesia, termasuk di Jakarta, kini semakin sulit berpindah dari screen time ke green time. Ia menjelaskan bahwa rata-rata waktu menatap layar pada anak dan remaja sudah berada di tingkat yang memprihatinkan, mencapai lebih dari tujuh jam per hari. Kondisi ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, tetapi sudah mengarah pada tantangan baru dalam perkembangan generasi muda.

Pratikno menilai fenomena ini terjadi karena paparan gawai yang begitu mudah dan masif, ruang terbuka yang terbatas, pola hidup keluarga modern yang serba digital, serta minimnya pendampingan dalam mengatur pola penggunaan gadget. Ia menyebut kesulitan beralih ke green time—yakni aktivitas bermain, bergerak, atau berinteraksi langsung di dunia nyata—sebagai sebuah alarm bagi pemerintah, orang tua, dan sekolah. Anak-anak yang terlalu lama terpaku pada layar berisiko mengalami penurunan kemampuan sosial, gangguan konsentrasi, masalah tidur, hingga stres dan kecemasan.

Fenomena ini juga melahirkan ketergantungan digital yang semakin kuat. Banyak anak yang tidak bisa melepaskan diri dari gawai, bahkan saat makan, belajar, atau beraktivitas di luar rumah. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, ruang publik yang terbatas membuat kesempatan anak untuk mengeksplorasi lingkungan “hijau” semakin kecil. Akibatnya, ketidakseimbangan aktivitas fisik dan digital menjadi semakin nyata dan berdampak pada tumbuh kembang mereka.

Read More  December home sales rebound? Here is the secret

Pemerintah mendorong kolaborasi lebih kuat antara sekolah, keluarga, dan lembaga masyarakat untuk memberikan alternatif kegiatan yang sehat. Penyediaan ruang ramah anak, peningkatan literasi digital, dan pendampingan orang tua dipandang sebagai kunci agar anak dapat kembali menikmati aktivitas fisik dan interaksi sosial di dunia nyata. Pratikno menegaskan bahwa masa depan generasi muda tidak boleh hanya bergantung pada teknologi, tetapi harus dibangun melalui pengalaman nyata, kreativitas, dan hubungan sosial yang sehat.

Peningkatan kesadaran publik mengenai bahaya screen time berlebihan diharapkan menjadi langkah awal untuk menciptakan keseimbangan baru bagi anak-anak Indonesia. Perubahan ini tidak mungkin terjadi dalam semalam, tetapi dengan konsistensi dan dukungan lingkungan, masyarakat dapat membantu anak kembali menikmati green time sebagai bagian penting dari tumbuh kembang mereka.

Back to top button