Minuman Manis Lebih Berisiko bagi Kesehatan daripada Makanan Manis
Meski sama-sama mengandung gula, penelitian medis menunjukkan minuman manis justru lebih berisiko bagi kesehatan karena cepat diserap tubuh dan memicu lonjakan gula darah yang tajam.
anyak orang menganggap semua makanan dan minuman manis memiliki risiko yang sama, tetapi riset modern justru menemukan bahwa cara tubuh memproses gula dalam minuman lebih berbahaya daripada gula dalam bentuk makanan padat.
Ahli gizi menjelaskan bahwa gula dalam minuman manisâseperti soda, minuman energi, es kopi manis, atau jus buah dengan tambahan gulaâlebih cepat diserap oleh tubuh karena bentuknya cair. Tanpa serat, protein, atau lemak yang memperlambat pencernaan seperti pada makanan manis padat, gula cair menyebabkan lonjakan glukosa dan insulin yang lebih tajam setelah dikonsumsi.
Lonjakan gula darah cepat ini punya efek negatif pada metabolisme. Tubuh kesulitan menjaga keseimbangan gula darah, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi insulin, sebuah kondisi kunci dalam perkembangan diabetes tipe 2. Riset meta-analisis terhadap ratusan ribu orang menunjukkan bahwa setiap tambahan porsi minuman bergula per hari berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 hingga sekitar 25 persen, sebuah hubungan yang jauh lebih kuat dibanding konsumsi gula dari makanan manis.
Di sisi medis, respons tubuh yang lebih lambat terhadap gula yang berasal dari makanan padat dianggap lebih âamanâ karena nutrien pendamping seperti serat dan protein membantu memperlambat masuknya gula ke aliran darah. Ini membuat lonjakan gula darah tidak setajam yang terjadi setelah minum minuman manis yang cepat diserap.
Selain itu, konsumsi minuman manis sering kali tidak membuat seseorang merasa kenyang, sehingga kalori dari gula cair mudah âterlewatâ dan bertambah tanpa disadari, meningkatkan total asupan energi harian. Hal ini juga berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan risiko obesitasâdua faktor yang memperburuk risiko penyakit kardiometabolik.
Secara klinis, lonjakan insulin berulang akibat gula cair juga mendorong tubuh menyimpan lebih banyak lemak, terutama di area perut, yang dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik lainnya. Beberapa studi bahkan menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman bergula dan gangguan fungsi hati, tekanan darah tinggi, serta peningkatan risiko penyakit jantung.
Karena itu, dokter dan ahli gizi lebih menyarankan agar masyarakat membatasi konsumsi minuman manis segera, menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat seperti air putih, infused water, atau jus buah tanpa gula tambahan. Edukasi pola makan yang memperhatikan konteks konsumsi gulaâbukan hanya jumlahnyaâmenjadi kunci untuk menurunkan risiko penyakit kronis di masa depan





