Misteri 50 Tahun Terpecahkan, Ilmuwan Temukan Golongan Darah Baru “MAL”
Setelah menjadi teka-teki selama lebih dari setengah abad, ilmuwan akhirnya menemukan golongan darah baru bernama “MAL”
Dunia medis kembali mencatat sejarah penting dengan terungkapnya golongan darah baru setelah 50 tahun menjadi misteri. Tim peneliti dari University of Bristol bekerja sama dengan NHS Blood and Transplant (NHSBT) di Inggris berhasil mengidentifikasi sistem golongan darah baru yang diberi nama “MAL”, berdasarkan gen yang sama yang mengatur antigen AnWj pada sel darah merah manusia.
Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Blood dan disebut mampu menjelaskan kasus medis langka yang selama puluhan tahun membingungkan para ahli hematologi di berbagai negara. Sistem MAL dikategorikan sebagai sistem golongan darah ke-44 yang diakui oleh International Society of Blood Transfusion (ISBT).
Dalam keterangan resmi NHSBT, Louise Tilley, ahli hematologi dari NHS Blood and Transplant, mengatakan penemuan ini adalah hasil kerja lintas disiplin yang melibatkan genetika, biokimia, dan imunologi. “Kami telah menemukan hubungan antara gen MAL dan antigen AnWj, yang selama ini tidak terdeteksi dalam sistem golongan darah konvensional. Ini menjelaskan kenapa beberapa pasien mengalami reaksi transfusi tak terduga selama puluhan tahun,” ujarnya.
Peneliti utama, Profesor Ashley Toye dari University of Bristol, menjelaskan bahwa penemuan ini membantu tenaga medis memahami alasan di balik sejumlah reaksi transfusi yang tidak bisa dijelaskan oleh sistem ABO maupun Rhesus. “Beberapa pasien menunjukkan hasil serologi yang aneh. Kini kita tahu bahwa mereka memiliki golongan darah dengan ekspresi antigen berbeda, yang ditentukan oleh gen MAL,” katanya dikutip dari British Society for Haematology.
Sebelum penemuan ini, banyak pasien di Eropa dan Asia Timur mengalami reaksi transfusi berat tanpa sebab yang jelas. Analisis genetik menunjukkan bahwa individu dengan mutasi pada gen MAL tidak menghasilkan protein AnWj, yang menyebabkan sistem imun menolak darah donor konvensional.
Walaupun penelitian dilakukan di Inggris, para ahli menilai golongan darah MAL bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia, mengingat keragaman genetik yang tinggi. Menurut dr. Linda Verawati, dari Klinik Patologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Indonesia memiliki potensi besar untuk menemukan varian darah langka. “Kasus darah langka memang jarang, tapi sangat penting untuk diidentifikasi karena berpengaruh langsung pada keselamatan pasien saat transfusi,” jelasnya.
Temuan ini diperkirakan akan berdampak besar terhadap praktik kedokteran transfusi dan skrining darah global. Dengan adanya sistem MAL, bank darah di seluruh dunia diharapkan mulai menyesuaikan prosedur pengujian untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan antigen baru tersebut, terutama pada pasien dengan riwayat transfusi berulang atau komplikasi imunologi.
Ke depan, para peneliti akan mengembangkan alat deteksi cepat berbasis genetik untuk mempermudah identifikasi golongan darah MAL, sekaligus memperluas basis data donor dengan tipe darah langka ini.





