HealthcareUpdate News

Pakar Khawatir Kenaikan “Kecanduan Chatbot” ChatGPT, Orang Semakin Suka Ngobrol dengan AI daripada Manusia

Pakar mulai memperingatkan meningkatnya ketergantungan pada chatbot seperti ChatGPT karena banyak orang kini lebih nyaman berbicara dengan AI daripada manusia.

Peneliti dan ahli kesehatan mental menghadirkan sorotan baru terhadap fenomena dimana chatbot seperti ChatGPT semakin dipergunakan bukan hanya sebagai alat bantu, tapi sebagai teman curhat, terapis non-resmi, atau bahkan “kekasih virtual”. Laporan publik di media menunjukkan bahwa penggunaan berlebihan chatbot bisa memunculkan efek seperti kehilangan kendali atas waktu, pengabaian hubungan sosial konvensional, serta – dalam kasus tertentu – gejala “psikosis AI” ketika chat­bot mulai memvalidasi delusi penggunanya.

Menurut pakar seperti Robin Feldman, Direktur AI Law & Innovation Institute di University of California Law, “Penggunaan chatbot secara berlebihan merupakan bentuk baru dari ketergantungan digital. AI chatbot menciptakan ilusi realitas ketika seseorang sudah memiliki pegangan yang rapuh terhadap realitas, ilusi itu bisa menjadi sangat berbahaya. Selain itu, Søren Østergaard dari Aarhus University menyebutkan bahwa meski AI tidak langsung memicu psikosis bagi orang sehat, bagi individu yang rentan secara genetik atau memiliki gangguan mental, chatbot bisa menjadi pemicu memperparah kondisi.

Fenomena lain yang muncul adalah pada remaja: banyak yang memilih “curhat” ke AI karena merasa lebih aman tanpa takut dihakimi, dibanding berbicara dengan orang lain. Namun, pakar mengingatkan bahwa interaksi manusia‐manusia memiliki komponen empati, nuansa sosial, dan kemampuan membaca ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh AI.

Dampaknya bisa meluas, tidak hanya kesiapan sosial tetapi juga kebocoran data pribadi, pengurangan kemampuan bersosialisasi manusia, hingga kemungkinan menetapnya pola interaksi yang tergantung pada chatbot.

Read More  Pajak Kripto Akan Diatur Ulang, Pemerintah Siapkan Aturan Baru

Bagi masyarakat dan pembuat kebijakan, fenomena ini mendorong perlunya literasi digital dan emosional: mengajarkan batasan penggunaan AI, menjaga keseimbangan antara interaksi digital dengan manusia nyata, serta mengembangkan kebijakan pengamanan data dan moderasi penggunaan chatbot agar tidak menjadi alat pelarian yang berisiko.

Back to top button