Pasar Kesehatan Lansia Berpotensi Tembus Rp700 Triliun, Seberapa Realistis?
Pertumbuhan jumlah lansia di Indonesia diperkirakan membuka peluang bisnis kesehatan hingga Rp700 triliun per tahun pada 2045
Jumlah penduduk lansia di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya angka harapan hidup. Saat ini, kelompok usia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai sekitar 12 persen dari total populasi. Pada 2045, porsinya diproyeksikan mendekati 20 persen. Perubahan struktur penduduk tersebut diyakini akan menggeser pola konsumsi masyarakat, termasuk kebutuhan terhadap layanan kesehatan.
Melihat tren tersebut, pelaku industri kesehatan mulai mempersiapkan strategi jangka panjang untuk menyambut pertumbuhan ekonomi berbasis lansia. Salah satu proyeksi yang muncul adalah potensi ekonomi kesehatan lansia yang dapat mencapai Rp500 triliun hingga Rp700 triliun per tahun pada 2045.
Besarnya angka tersebut bukan semata-mata berasal dari penjualan obat-obatan. Saat ini saja, kelompok lansia diperkirakan menyerap sekitar 30 hingga 40 persen dari total belanja kesehatan nasional, atau setara Rp190 triliun hingga Rp260 triliun per tahun. Tingginya pengeluaran tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan layanan kesehatan yang bisa tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia produktif.
Seiring bertambahnya jumlah lansia, kebutuhan terhadap layanan kesehatan diperkirakan meningkat secara signifikan. Tidak hanya untuk pengobatan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan degeneratif, tetapi juga untuk layanan pencegahan, rehabilitasi, pemeriksaan kesehatan berkala, hingga perawatan jangka panjang.
Karena itu, proyeksi pasar hingga Rp700 triliun lebih mencerminkan besarnya ekosistem ekonomi lansia secara keseluruhan. Di dalamnya terdapat berbagai layanan yang saling terhubung, mulai dari farmasi, diagnostik, perawatan kesehatan di rumah, teknologi kesehatan, hingga pembiayaan kesehatan.
Menariknya, masa depan bisnis kesehatan lansia diperkirakan tidak lagi didominasi oleh penjualan obat. Nilai terbesar justru diproyeksikan datang dari layanan kesehatan terintegrasi yang membantu masyarakat menjaga kualitas hidup hingga usia lanjut.
Permintaan terhadap layanan perawatan di rumah (home care), perawatan jangka panjang (long-term care), pengelolaan penyakit kronis, layanan kebugaran, program pencegahan penyakit, hingga pemeriksaan kesehatan berbasis deteksi dini diperkirakan akan tumbuh paling cepat dalam dua dekade mendatang. Kondisi ini membuka peluang besar tidak hanya bagi industri farmasi, tetapi juga rumah sakit, laboratorium kesehatan, perusahaan teknologi kesehatan, perusahaan asuransi, hingga penyedia jasa perawatan lansia.
Untuk menangkap peluang tersebut, sejumlah perusahaan kesehatan mulai mengubah pendekatan bisnis dari yang selama ini berfokus pada pengobatan menjadi layanan yang lebih preventif dan rehabilitatif. Pengembangan produk dan layanan kesehatan kini diarahkan untuk mendampingi masyarakat sejak usia produktif hingga memasuki masa lansia.
Salah satu strategi yang mulai dikembangkan adalah penguatan layanan kesehatan terpadu yang menggabungkan produk farmasi, obat herbal, layanan diagnostik, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pendampingan kesehatan personal. Layanan skrining kesehatan dan pemeriksaan laboratorium juga diperkuat untuk membantu mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini.
Selain itu, layanan kesehatan berbasis rumah seperti home lab, home pharmacy, dan home nurse semakin mendapat perhatian. Model layanan ini dinilai akan menjadi kebutuhan penting di masa depan karena banyak lansia menghadapi keterbatasan mobilitas sehingga memerlukan akses kesehatan yang lebih mudah dan nyaman.
Meski potensinya besar, pengembangan ekonomi lansia di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi khusus di bidang geriatri masih terbatas. Kebutuhan terhadap tenaga pendamping lansia atau caregiver profesional juga diperkirakan akan meningkat seiring bertambahnya populasi usia lanjut.
Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan khusus lansia masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Berbagai layanan seperti perawatan di rumah, rehabilitasi, hingga deteksi dini penyakit kronis belum merata tersedia di berbagai daerah.
Tantangan lain berasal dari aspek pembiayaan. Sistem kesehatan saat ini masih lebih banyak berfokus pada pembiayaan pengobatan ketika seseorang telah sakit, sementara layanan pencegahan dan pemeliharaan kesehatan belum mendapatkan dukungan yang optimal.
Bagi industri kesehatan nasional, fenomena penuaan penduduk tidak hanya menjadi tantangan sosial, tetapi juga peluang ekonomi yang sangat besar. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura telah lebih dahulu mengembangkan berbagai layanan berbasis healthy ageing untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lanjut usia.
Indonesia memiliki peluang untuk mengikuti jejak tersebut. Dengan jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan populasi lansia yang terus meningkat, sektor kesehatan lansia berpotensi menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru industri kesehatan nasional dalam dua dekade mendatang. Jika pengembangan layanan kesehatan, teknologi, sumber daya manusia, dan sistem pembiayaan dapat berjalan secara terintegrasi, proyeksi pasar hingga Rp700 triliun bukanlah angka yang mustahil untuk diwujudkan.





