Pasar Kondominium 2025 Stagnan, Permintaan Turun dan Harga Tak Bergerak
Pasar kondominium Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren stagnan dengan minim peluncuran proyek baru dan harga yang tidak mengalami kenaikan.
Pasar kondominium di Indonesia sepanjang 2025 menghadapi tekanan serius. Permintaan turun, harga stagnan, dan hampir tidak ada proyek baru yang diluncurkan pengembang. Kondisi ini menjadi sinyal merah bagi sektor properti residensial vertikal, khususnya di kota-kota besar.
Data dari Colliers Indonesia menunjukkan pasar kondominium cenderung bergerak datar sepanjang tahun ini. Tidak ada peluncuran proyek baru dalam beberapa kuartal terakhir, menandakan pengembang memilih menahan ekspansi sambil menunggu perbaikan daya beli dan stabilitas ekonomi.
Secara umum, harga jual unit tidak mengalami kenaikan signifikan. Pengembang lebih fokus menjaga stabilitas harga ketimbang menaikkannya, guna mempertahankan minat beli yang masih terbatas. Strategi ini dilakukan agar stok unit yang sudah ada tetap terserap pasar, terutama di tengah kondisi pembiayaan yang masih ketat.
Meski begitu, bukan berarti pasar sepenuhnya lesu. Penjualan masih terjadi di lokasi-lokasi strategis, terutama kawasan pusat bisnis (CBD), dekat transportasi publik, serta area yang memiliki fasilitas lengkap. Konsumen kini jauh lebih selektif, mengutamakan lokasi premium, aksesibilitas, serta reputasi pengembang.
Fenomena stagnasi ini juga dipengaruhi perubahan preferensi hunian. Pasca pandemi, sebagian konsumen lebih memilih rumah tapak dibanding hunian vertikal. Selain itu, suku bunga kredit yang belum sepenuhnya turun membuat calon pembeli menunda keputusan pembelian.
Di sisi lain, investor juga cenderung berhati-hati. Imbal hasil sewa apartemen belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi, sehingga minat spekulatif menurun. Pembelian kini lebih banyak dilakukan untuk kebutuhan end-user dibanding investasi jangka pendek.
Jika kondisi ekonomi membaik dan suku bunga mulai lebih kompetitif, pasar kondominium berpotensi kembali bergerak. Namun untuk saat ini, 2025 menjadi periode konsolidasi bagi para pengembang. Fokus mereka bukan lagi ekspansi agresif, melainkan menjaga arus kas dan menyelesaikan proyek yang sudah berjalan.
Stagnasi ini bisa menjadi momen evaluasi bagi industri. Pengembang dituntut lebih inovatif, baik dari sisi desain unit, konsep mixed-use, hingga skema pembayaran yang lebih fleksibel agar daya tarik pasar kembali meningkat.



