FintalkUpdate News

Pasar Kripto Masih Lesu Meski Shutdown AS Berakhir

Meski shutdown Amerika Serikat resmi berakhir, pasar kripto belum menunjukkan euforia besar, dengan harga Bitcoin masih tertahan di bawah level psikologis US$106.000.

Setelah 43 hari penuh ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya menandatangani rancangan undang-undang pendanaan yang mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah Negeri Paman Sam. Namun di tengah kabar positif ini, pasar kripto tampaknya belum bereaksi seantusias yang diharapkan para investor.

Harga Bitcoin (BTC) sempat rebound tipis ke kisaran US$102.400 atau sekitar Rp1,71 miliar (kurs Rp16.730), naik sekitar 1% dalam 24 jam terakhir. Meski begitu, aset kripto terbesar di dunia ini belum mampu menembus kembali level psikologis penting di atas US$106.000. Ethereum (ETH) juga naik 2% ke US$3.450, sementara XRP melonjak 4% ke US$2,44.

Menurut Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, kenaikan tersebut masih bersifat teknikal dan belum mencerminkan perubahan tren yang solid. “Rebound Bitcoin kali ini lebih bersifat dead cat bounce, yakni kenaikan sesaat setelah tekanan jual besar. Sentimen global memang mulai pulih setelah shutdown AS berakhir, tapi kekuatan fundamental Bitcoin belum cukup kuat untuk menembus resistensi di atas US$106.000,” ujarnya.

Berakhirnya shutdown membuat lembaga penting seperti SEC dan CFTC kembali beroperasi, sehingga proses persetujuan ETF spot Bitcoin yang sempat tertunda bisa dilanjutkan. Meski begitu, Fyqieh menilai efeknya tidak akan langsung terasa. “Investor masih menunggu kepastian dari SEC soal ETF kripto dan arah kebijakan fiskal AS ke depan. Dengan DXY (Indeks Dolar AS) yang terus menguat, banyak pelaku pasar justru memilih menahan posisi di aset berisiko seperti Bitcoin,” katanya.

Read More  Tips Cerdas Atur Belanja Online di Tengah Biaya Hidup yang Makin Mencekik

Kenaikan nilai dolar AS biasanya menekan minat terhadap aset alternatif seperti kripto. Hal ini terlihat dari inflow ke ETF Bitcoin senilai US$524 juta yang belum mampu mendorong harga secara signifikan.

Selain faktor makroekonomi, tekanan juga datang dari aksi jual besar-besaran oleh pemegang Bitcoin jangka panjang. Beberapa alamat lama yang tidak aktif sejak 2018 mulai memindahkan BTC mereka ke bursa seperti Kraken, termasuk transfer 1.800 BTC senilai lebih dari US$200 juta yang dikaitkan dengan trader lama era Mt. Gox, Owen Gunden.

Fyqieh menilai fenomena ini sebagai tanda kekhawatiran investor lama terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. “Ketika whale lama mulai menjual, biasanya mereka melihat risiko tertentu di depan. Salah satunya bisa jadi isu quantum computing atau kekhawatiran terhadap keamanan jangka panjang jaringan Bitcoin,” jelasnya.

Menariknya, sebagian dana yang keluar dari Bitcoin mengalir ke privacy coin seperti Zcash (ZEC), Decred (DCR), dan Monero (XMR), yang masing-masing naik antara 20–100% dalam sebulan terakhir. “Rotasi ke privacy coin menunjukkan investor mencari alternatif dengan privasi dan keamanan lebih tinggi. Ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang mencari narasi baru di luar Bitcoin,” tambah Fyqieh.

Meski berakhirnya shutdown AS menjadi kabar baik bagi stabilitas ekonomi global, Fyqieh mengingatkan agar investor tidak terlalu cepat optimistis. “Selama Bitcoin gagal menembus area US$106.000–US$108.000 dengan volume kuat, arah jangka pendek masih sideways to bearish. Area support kuat saat ini ada di kisaran US$98.000, sementara target kenaikan baru bisa terbuka jika BTC menutup harian di atas US$110.000,” ujarnya.

Dengan demikian, euforia berakhirnya shutdown belum cukup untuk menghidupkan kembali bull market kripto. Pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat, baik dari sisi makro seperti kebijakan suku bunga AS maupun dari industri kripto sendiri, termasuk persetujuan ETF spot yang hingga kini masih dinanti keputusan finalnya oleh SEC.

Back to top button