Penelitian Ungkap Mikroplastik Bisa Ganggu Sistem Kekebalan Tubuh Manusia
Penelitian terbaru di jurnal Immunity mengungkap mikroplastik dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan memperparah infeksi pada paru-paru.
Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia semakin mendapat perhatian para ilmuwan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil ini berpotensi mengganggu sistem kekebalan tubuh jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang berasal dari berbagai sumber, seperti limbah plastik, kemasan makanan, pakaian sintetis, hingga degradasi benda plastik di lingkungan. Partikel ini dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, udara yang dihirup, hingga air yang dikonsumsi sehari-hari.
Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Immunity berfokus pada polistirena, salah satu jenis plastik yang umum digunakan dalam wadah makanan dan dapat terurai menjadi partikel mikroplastik. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana mikroplastik dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Penulis senior studi, Justin Perry, ahli imunologi di Memorial Sloan Kettering Cancer Center, menjelaskan bahwa penumpukan mikroplastik di dalam tubuh sebelumnya telah dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan serius. Kondisi tersebut antara lain penebalan plak di dinding arteri atau aterosklerosis, penyempitan dan kekakuan pembuluh darah yang berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif, hingga peningkatan risiko kanker.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan memasukkan mikroplastik ke dalam saluran pernapasan tikus untuk melihat dampaknya secara langsung pada paru-paru. Organ tersebut kemudian diperiksa menggunakan mikroskop untuk memahami bagaimana sistem imun bereaksi terhadap partikel plastik tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa sel imun yang menyerap mikroplastik mengalami kesulitan untuk menelan dan menghancurkan materi berbahaya, seperti sel mati atau mikroba penyebab penyakit. Kondisi ini membuat kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi menjadi terganggu.
Untuk menguji lebih jauh, para peneliti juga memasukkan jamur Aspergillus fumigatus ke dalam paru-paru tikus. Jamur ini diketahui dapat menyebabkan infeksi pernapasan pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.
Hasilnya, tikus yang sebelumnya terpapar mikroplastik mengalami kesulitan membersihkan infeksi tersebut dan menunjukkan gejala penyakit yang lebih parah dibandingkan tikus yang tidak terpapar.
Menurut Perry, temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena tubuh manusia kemungkinan belum memiliki mekanisme perlindungan yang cukup terhadap partikel mikroplastik.
âItu agak menakutkan karena artinya kita sebenarnya belum mengembangkan respons terhadapnya. Jadi, ada kemungkinan sel-sel menimbun semakin banyak mikroplastik sepanjang hidup seseorang,â ujar Perry.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran para ilmuwan mengenai dampak jangka panjang polusi plastik terhadap kesehatan manusia. Dengan semakin banyaknya mikroplastik yang ditemukan di udara, makanan, dan air, para peneliti menilai pentingnya upaya global untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Para ahli juga mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan produk berbahan plastik, termasuk dengan mengurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai dan menghindari memanaskan makanan dalam kemasan plastik.
Penelitian mengenai mikroplastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terus berkembang. Namun, temuan terbaru ini menjadi pengingat bahwa polusi plastik bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga berpotensi menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia di masa depan.



