Penelitian Ungkap Perbedaan antara Wajah Orang Kaya dan Miskin
Hasil riset menunjukkan bahwa fitur wajah tertentu, seperti bentuk wajah, senyuman, dan rona kulit, bisa mencerminkan persepsi sosial terhadap status kekayaan seseorang.
Sebuah studi psikologi terbaru mengungkap bahwa wajah seseorang bisa memberikan petunjuk tentang status sosial ekonominya. Penelitian yang dipimpin oleh R. Thora Bjornsdottir dari University of Glasgow menemukan bahwa wajah yang dipersepsikan “kaya” memiliki ciri-ciri khusus: lebih sempit dan panjang, sudut bibir mengarah ke atas, alis terangkat, jarak mata relatif dekat, serta warna kulit yang lebih cerah dan hangat. Sebaliknya, wajah yang dianggap “miskin” cenderung lebih lebar, pendek, dan datar, dengan sudut bibir yang merosot dan rona kulit yang gelap serta dingin.
Riset ini bukan hanya soal mengamati fitur wajah tanpa makna: para peneliti juga melihat bagaimana ciri wajah tersebut terhubung dengan stereotip sosial seperti kompetensi, kehangatan, dan kepercayaan. Wajah yang dianggap kaya lebih sering diasosiasikan dengan sifat kompeten, hangat, dan dapat dipercaya, sedangkan wajah yang dipersepsikan miskin cenderung dikaitkan dengan persepsi negatif seperti kurang kompeten dan dingin.
Manfaat dari temuan ini cukup signifikan untuk masyarakat luas. Pertama, penelitian ini menyoroti bagaimana bias wajah dapat memperkuat ketidaksetaraan sosial: persepsi status sosial hanya dari penampilan dapat memengaruhi cara orang diperlakukan dalam interaksi sosial, pekerjaan, atau layanan publik. Kedua, pemahaman yang lebih baik tentang stereotip wajah bisa menjadi dasar intervensi pendidikan sosial atau program pelatihan untuk mengurangi diskriminasi berbasis penampilan — misalnya di rekrutmen kerja, wawancara, atau penilaian sosial lainnya.
Ketiga, temuan ini bisa memperkuat penelitian tentang kesetaraan sosial dan psikologi stereotip dengan memberi bukti konkret bahwa stereotip ekonomi tercermin (dan diterima) melalui persepsi wajah oleh orang lain. Dengan memahami bagaimana persepsi wajah terbentuk, pembuat kebijakan dan organisasi bisa lebih bijak dalam merancang kebijakan sosial yang adil.
Namun, para peneliti juga mengingatkan keterbatasan studi ini. Subjek penelitian awalnya terutama berasal dari kultur Barat dan latar rasial terbatas, sehingga belum tentu hasilnya berlaku universal di semua populasi. Selain itu, persepsi wajah tidak selalu mencerminkan realitas status kekayaan sebenarnya — melainkan bisa lebih terkait dengan stereotip dan emosi yang terekam di wajah.
Akhirnya, penelitian ini membuka pintu untuk eksplorasi lebih jauh: bagaimana persepsi sosial terhadap ekonomi bisa dipengaruhi oleh faktor non-verbal seperti penampilan, dan bagaimana masyarakat bisa bekerja sama untuk mengurangi stereotip yang tidak adil berdasarkan wajah.





