HealthcareUpdate News

Puasa Tak Hanya Ibadah Spiritual, Tapi Juga Baik untuk Kesehatan Mental,

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan bahwa puasa yang dilakukan dengan benar tak hanya memberikan manfaat fisik, tetapi juga membantu meredakan stres, mengurangi kecemasan, dan mendukung kesehatan mental

Puasa Ramadan selama ini dikenal sebagai rutinitas ibadah yang menahan lapar dan haus, namun menurut Kementerian Kesehatan RI, praktik puasa yang dijalani dengan kesadaran bisa membawa dampak positif pada keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa serta memperkuat kesehatan mental di tengah dinamika kehidupan modern.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan bahwa puasa dapat dimanfaatkan sebagai momen refleksi diri dan perbaikan kesejahteraan mental. “Ramadan adalah waktu yang ideal untuk membersihkan ‘sampah pikiran’ dan mendekatkan diri kepada tujuan hidup, yang pada akhirnya dapat memberikan ketenangan batin,” ujarnya.

Menurut laporan Kemenkes, sejumlah studi ilmiah mendukung efek puasa terhadap penurunan gejala stres dan kecemasan. Penelitian di MAN 2 Kota Cilegon menunjukkan puasa berkontribusi hingga 98,01 persen terhadap peningkatan pengendalian diri dan regulasi emosi siswa, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.

Selain itu, studi dari Universitas Sirjan Azad menunjukkan bahwa individu yang berpuasa memiliki pengendalian diri yang lebih kuat sehingga lebih tenang menghadapi tekanan hidup. Aktivitas spiritual seperti doa, zikir, dan praktik mindfulness selama puasa membantu fokus pada momen saat ini, yang berkontribusi pada berkurangnya kecemasan.

Kemenkes juga menyinggung aspek fisiologis dari puasa yang berpotensi mengatur hormon stres. Puasa dilaporkan dapat membantu menjaga kadar kortisol, hormon yang berkaitan dengan respons stres, serta meningkatkan produksi endorfin — hormon yang berhubungan dengan perasaan bahagia. Ini serupa dengan efek yang kadang dirasakan setelah berolahraga, ketika tubuh menghasilkan hormon “kebahagiaan”.

Read More  IBM dan NASA Luncurkan Surya, Model AI Open-Source untuk Prediksi Cuaca Matahari

Manfaat puasa ini tak hanya berdampak pada suasana hati sehari-hari. Penelitian lain yang dikutip menunjukkan bahwa puasa berdampak positif pada metabolisme otak, termasuk meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang mendukung pertumbuhan dan regenerasi sel otak serta membantu melindungi fungsi otak dari kerusakan.

Meski demikian, Kemenkes mengingatkan bahwa puasa bisa menjadi tantangan bagi sebagian individu, terutama mereka yang memiliki kondisi gangguan mental berat seperti skizofrenia. “Dukungan keluarga dan komunitas sangat penting agar mereka tetap dapat menjalani Ramadan dengan baik,” kata Imran.

Untuk mengoptimalkan manfaat puasa bagi kesehatan mental, Kemenkes juga merekomendasikan beberapa langkah, seperti menetapkan tujuan spiritual yang jelas, berlatih mindfulness, menjaga pola hidup sehat, dan memperkuat hubungan sosial yang positif selama Ramadan.

Back to top button