Rambut Rontok Berlebihan Perlu Diwaspadai, Bisa Dipicu Stres hingga Masalah Kesehatan
Kerontokan rambut yang terjadi terus-menerus dan berlebihan tidak selalu sepele karena bisa menjadi tanda stres, gangguan nutrisi, hingga kondisi medis tertentu yang perlu penanganan dokter.
Rambut rontok merupakan kondisi yang umum dialami banyak orang dan pada batas tertentu masih tergolong normal. Secara alami, rambut akan mengalami siklus tumbuh dan rontok, dengan jumlah sekitar 50 hingga 100 helai per hari. Namun, ketika rambut yang rontok terlihat jauh lebih banyak, menumpuk di sisir atau kamar mandi, atau menyebabkan rambut tampak menipis, kondisi ini patut diwaspadai karena bisa menandakan adanya gangguan pada tubuh.
Salah satu pemicu paling sering dari kerontokan rambut adalah stres, baik stres psikologis maupun fisik. Tekanan emosional berkepanjangan, kelelahan, kurang tidur, hingga stres akibat penyakit atau operasi dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut. Dalam kondisi ini, banyak rambut masuk lebih cepat ke fase istirahat dan rontok secara bersamaan, yang dikenal sebagai telogen effluvium. Kerontokan jenis ini umumnya bersifat sementara dan dapat membaik setelah faktor pemicunya teratasi.
Dokter spesialis dermatologi dan venerologi dr. Yovita Widya Prasetya, dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), menjelaskan bahwa rambut rontok sering kali merupakan respons tubuh terhadap stres atau perubahan kondisi kesehatan.
âRambut sangat sensitif terhadap perubahan dalam tubuh. Saat seseorang mengalami stres berat, sakit, atau perubahan hormonal, rambut bisa ikut terdampak dan rontok lebih banyak dari biasanya,â ujarnya dalam berbagai kesempatan edukasi kesehatan.
Selain stres, kerontokan rambut juga bisa dipicu oleh faktor lain seperti kekurangan zat besi, protein, dan vitamin tertentu, perubahan hormon, efek samping obat-obatan, hingga gangguan kesehatan seperti penyakit tiroid atau kondisi autoimun. Pada kasus tertentu seperti alopecia areata, rambut bisa rontok secara tiba-tiba di area tertentu karena sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut. Kondisi ini memerlukan evaluasi medis karena penanganannya berbeda dengan rambut rontok biasa.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain rambut rontok dalam jumlah besar setiap hari, rambut terlihat semakin tipis, muncul area botak, atau rambut tidak kembali tumbuh setelah beberapa bulan. Jika kerontokan berlangsung lebih dari tiga bulan atau disertai keluhan lain seperti gatal, nyeri, kemerahan, atau perubahan pada kulit kepala, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan.
Menurut dr. Yovita, langkah awal mengatasi rambut rontok adalah mencari tahu penyebabnya.
âPenanganan rambut rontok harus disesuaikan dengan penyebabnya. Kalau karena stres, perbaikan gaya hidup dan manajemen stres sangat penting. Kalau karena kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu, maka penyebab dasarnya yang harus ditangani terlebih dahulu,â jelasnya.
Perawatan rambut rontok juga dapat dimulai dari hal sederhana seperti menjaga pola makan seimbang, mencukupi kebutuhan protein dan zat besi, menghindari penataan rambut berlebihan, serta memastikan waktu istirahat yang cukup. Mengelola stres dengan olahraga, relaksasi, atau aktivitas yang menyenangkan juga dapat membantu memulihkan siklus pertumbuhan rambut.
Meski sebagian besar kasus rambut rontok bersifat sementara, ada kondisi tertentu yang bisa menyebabkan kerontokan permanen jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, keputusan untuk memeriksakan diri ke dokter sebaiknya diambil ketika rambut rontok tidak kunjung membaik, jumlahnya semakin banyak, atau menimbulkan kebotakan yang jelas. Pemeriksaan medis dapat membantu memastikan apakah kerontokan bersifat sementara atau memerlukan terapi khusus agar rambut tetap sehat dan pertumbuhan dapat kembali optimal.





