Update News

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini 5 Hal yang Perlu Dicermati Keluarga Indonesia

Rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS berpotensi memengaruhi pengeluaran rumah tangga, mulai dari harga kebutuhan pokok hingga cicilan.

ekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Selain berdampak pada dunia usaha, pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga melalui kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya produksi, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor.

“Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor,” kata Telisa kepada Antara.

Menurut Telisa, sejumlah sektor yang berpotensi terdampak antara lain obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, hingga telekomunikasi.

Bagi keluarga Indonesia, setidaknya ada lima hal yang perlu mendapat perhatian.

1. Harga Kebutuhan Sehari-hari Berpotensi Naik

Pelemahan rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal. Dampaknya bisa merembet ke berbagai produk yang menggunakan bahan baku impor, seperti makanan berbasis gandum, susu, obat-obatan, hingga sejumlah produk elektronik.

Karena itu, masyarakat perlu mulai meninjau kembali anggaran belanja rumah tangga dan memprioritaskan kebutuhan utama.

2. Daya Beli Bisa Tertekan

Telisa mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya memengaruhi harga barang, tetapi juga berdampak pada daya beli masyarakat.

Dalam analisis yang dipublikasikan pada Mei 2026, ia menyebut setiap pelemahan rupiah berpotensi menekan konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik.

Read More  Waspadai Sumbatan Usus, Penyakit yang Sebabkan Ayah YouTuber Jeremi Polin Meninggal Dunia

Ketika harga barang naik lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan, kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa akan menurun.

3. Waspadai Cicilan dan Utang

Chief Economist PermataBank, Josua Pardede, mengingatkan bahwa masyarakat perlu memahami dampak pelemahan rupiah secara menyeluruh dan tidak melihatnya sebagai kondisi yang otomatis menguntungkan perekonomian.

Menurut Josua, banyak industri Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor sehingga pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan biaya produksi.

Kondisi tersebut dapat berujung pada kenaikan harga barang dan memperbesar tekanan terhadap keuangan rumah tangga, terutama bagi keluarga yang memiliki cicilan atau pinjaman jangka panjang.

4. Dana Darurat Menjadi Semakin Penting

Ketidakpastian ekonomi biasanya diikuti dengan meningkatnya risiko perlambatan usaha dan gangguan pendapatan.

Perencana keuangan Ligwina Hananto selama ini konsisten mengingatkan pentingnya dana darurat sebagai perlindungan pertama ketika terjadi guncangan ekonomi maupun kehilangan pendapatan.

Para perencana keuangan umumnya merekomendasikan dana darurat minimal enam bulan pengeluaran bagi pekerja tetap dan hingga 12 bulan bagi pelaku usaha atau pekerja lepas.

5. Tunda Pembelian Barang Impor yang Tidak Mendesak

Produk elektronik, gadget, komputer, peralatan rumah tangga, hingga suku cadang kendaraan merupakan kelompok barang yang biasanya paling cepat merespons pelemahan nilai tukar.

Karena itu, masyarakat disarankan menunda pembelian barang impor yang belum mendesak agar tidak terbebani kenaikan harga yang berpotensi terjadi dalam beberapa bulan mendatang.

Fokus pada Arus Kas Keluarga

Di tengah tekanan nilai tukar, para ekonom menilai langkah paling penting adalah menjaga kesehatan arus kas keluarga.

Mengurangi pengeluaran yang tidak penting, menghindari utang konsumtif, memperkuat dana darurat, dan menjaga tabungan tetap menjadi strategi yang paling realistis bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia.

Read More  Minum Es atau Teh Panas Setelah Makan Bisa Picu Masalah Pencernaan, Dokter Ingatkan Bahayanya

Meski pelemahan rupiah belum tentu langsung memicu krisis, kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan finansial keluarga sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola pengeluaran dan menyiapkan cadangan dana menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Back to top button