TechnoUpdate News

Smartwatch dengan Fitur EKG: Sejauh Mana Akurasinya untuk Deteksi Masalah Jantung?

Banyak smartwatch kini dilengkapi dengan fitur cek elektrokardiogram (EKG), tetapi para ahli menekankan bahwa meski berguna sebagai alat deteksi awal, fitur ini bukan pengganti pemeriksaan medis profesional.

Saat ini, semakin banyak smartwatch dan wearable yang mampu memantau kesehatan jantung melalui fitur elektrokardiogram (EKG). Fitur ini memungkinkan pengguna merekam sinyal listrik jantung hanya dengan meletakkan jari di sensor perangkat—memberikan gambaran aktivitas jantung layaknya alat EKG di rumah sakit.

Produsen smartwatch besar seperti Apple, Samsung, dan Fitbit telah memasarkan jam tangan pintar dengan fitur EKG yang diklaim dapat mendeteksi kelainan irama jantung seperti atrial fibrillation (AFib). AFib merupakan salah satu gangguan irama jantung yang jika tidak ditangani bisa meningkatkan risiko stroke dan komplikasi lain.

Namun, meskipun fitur ini terdengar canggih dan menggiurkan, pertanyaan penting yang muncul adalah: seberapa akurat dan dapat diandalkah EKG di smartwatch dalam menjaga kesehatan jantung?

Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa teknologi EKG pada smartwatch memang bisa menjadi alat bantu yang berguna untuk mendeteksi perubahan irama jantung secara cepat dan non-invasif. “Fitur EKG di wearable dapat membantu pengguna mengetahui apakah ada pola irama jantung yang tidak normal, sehingga mendorong mereka untuk segera melakukan pemeriksaan medis lebih lanjut,” kata dr. Vito A. Damay, Sp.JP(K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah .

Namun dr. Vito menegaskan bahwa smartwatch bukanlah alat diagnosis medis utama. “Walaupun banyak smartwatch yang sudah memiliki sensor EKG dengan algoritma yang cukup baik, hasilnya tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis profesional dengan alat EKG yang standar dan berkualitas klinis,” ujarnya.

Perbedaan utama antara EKG di smartwatch dan EKG klinis adalah jumlah elektroda dan konteks penggunaannya. Alat EKG profesional di rumah sakit umum menggunakan 12 lead yang memberikan gambaran lengkap aktivitas listrik jantung dari berbagai sudut, sedangkan smartwatch biasanya hanya menggunakan satu atau dua lead saja. Ini membuat data dari smartwatch bersifat lebih terbatas.

Read More  Dokter Spesialis Keliling Desa, Cara Jateng Dekatkan Layanan Kesehatan Gratis

Meski demikian, sejumlah studi menunjukkan bahwa fitur EKG di perangkat wearable bisa memiliki validitas yang cukup baik dalam mendeteksi tanda-tanda atrial fibrillation bila dibandingkan dengan EKG klinis, terutama ketika digunakan secara konsisten oleh pengguna yang sadar akan gejalanya. Namun, keakuratan hasil tetap bisa dipengaruhi oleh posisi sensor, gerakan tubuh, dan kualitas sinyal listrik dari kulit pengguna pada saat pengukuran.

Selain mendeteksi AFib, beberapa smartwatch juga dapat memberi peringatan dini atas denyut jantung tidak teratur atau deteksi denyut yang terlalu cepat atau lambat. Fitur-fitur ini disebut dapat berkontribusi pada kesadaran pengguna terhadap kesehatan jantung, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga, tekanan darah tinggi, atau diabetes.

Pakar kesehatan menyarankan agar penggunaan fitur EKG pada smartwatch dipadukan dengan gaya hidup sehat, seperti aktivitas fisik rutin, diet seimbang, kontrol stres, dan pemeriksaan medis berkala. Alat wearable sebaiknya dilihat sebagai alat pemantau tambahan, bukan pengganti lengkap bagi layanan kesehatan profesional.

Sebagai langkah pencegahan, jika sebuah smartwatch memberi peringatan tentang adanya irama jantung yang tidak biasa, pengguna dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan EKG profesional, tes darah, atau evaluasi kardiologi lanjutan dapat memberikan diagnosis yang lebih akurat dan peta risiko kesehatan jantung secara menyeluruh.

Back to top button