Split Charging Hadir di Indonesia, Ini Bedanya dengan Charging Biasa
Teknologi split charging resmi diterapkan di SPKLU di Banten dan digadang-gadang menjadi solusi pengisian daya mobil listrik yang lebih efisien dibanding sistem charging konvensional.
Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan kemajuan, termasuk dari sisi infrastruktur pengisian daya. Sebuah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) berteknologi split charging kini resmi beroperasi di Provinsi Banten dan disebut sebagai yang pertama di Tanah Air. Inovasi ini dinilai menjadi jawaban atas meningkatnya kebutuhan pengisian daya seiring pertumbuhan jumlah mobil listrik di jalan raya.
Split charging pada dasarnya adalah sistem pengisian daya yang memungkinkan satu sumber daya listrik besar dibagi secara dinamis ke dua kendaraan atau lebih dalam waktu bersamaan. Berbeda dengan sistem charging biasa yang bersifat tetap atau fixed, di mana satu unit charger melayani satu mobil dengan daya konstan, teknologi split charging mampu mendistribusikan daya secara fleksibel sesuai kebutuhan masing-masing kendaraan.
Sebagai gambaran, jika satu kabinet daya memiliki kapasitas 120 kW, pada sistem konvensional daya tersebut hanya bisa digunakan oleh satu kendaraan. Namun pada split charging, kapasitas itu bisa dibagi, misalnya 60 kW untuk dua kendaraan sekaligus, atau 80 kW dan 40 kW tergantung kondisi baterai dan kebutuhan pengisian. Ketika salah satu mobil hampir penuh dan tidak lagi membutuhkan daya besar, sistem secara otomatis mengalihkan sisa daya ke kendaraan lain yang masih membutuhkan pengisian cepat.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensi dan fleksibilitas. Pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama hanya karena satu kendaraan sedang menggunakan daya maksimal. Operator SPKLU pun dapat melayani lebih banyak kendaraan tanpa harus membangun infrastruktur daya baru dalam jumlah besar. Dari sisi investasi dan pengelolaan jaringan listrik, sistem ini dinilai lebih hemat dan adaptif terhadap kondisi lapangan.
Kehadiran split charging menjadi penting karena adopsi kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat. Pemerintah mendorong percepatan transisi energi bersih, sementara masyarakat mulai beralih ke mobil listrik karena pertimbangan efisiensi biaya operasional dan kepedulian lingkungan. Dengan pertumbuhan tersebut, tantangan utama bukan hanya pada jumlah kendaraan, tetapi juga kesiapan infrastruktur pengisian daya.
Jika masih menggunakan sistem satu charger satu mobil, antrean di SPKLU berpotensi semakin panjang, terutama di wilayah padat kendaraan. Split charging menawarkan solusi praktis dengan memaksimalkan kapasitas daya yang tersedia. Sistem ini juga mendekati standar pengisian modern yang telah diterapkan di berbagai negara dengan penetrasi kendaraan listrik tinggi.
Dengan beroperasinya SPKLU berteknologi split charging di Banten, Indonesia menunjukkan langkah maju dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang lebih cerdas dan efisien. Inovasi ini bukan sekadar pembaruan teknis, tetapi bagian dari strategi besar untuk memastikan bahwa pertumbuhan mobil listrik berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur yang memadai.



