FintalkUpdate News

Survei PwC: Hampir Separuh Pekerja Indonesia Alami Tekanan Finansial

Laporan terbaru PricewaterhouseCoopers (PwC) mengungkap 49 persen pekerja Indonesia mengalami tekanan finansial, mencerminkan tantangan biaya hidup yang kian terasa.

Lebih dari sekadar angka, tekanan finansial kini menjadi realitas yang dirasakan oleh hampir setengah populasi pekerja di Indonesia. Temuan tersebut terungkap dalam laporan Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 yang dirilis oleh PricewaterhouseCoopers (PwC). Survei global ini menyoroti kondisi kesejahteraan tenaga kerja di berbagai negara, termasuk Indonesia, di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.

Dalam laporan tersebut, sebanyak 49 persen pekerja Indonesia menyatakan mengalami tekanan finansial. Kondisi ini menggambarkan situasi ketika pengeluaran rutin kerap menggerus hampir seluruh pendapatan, sehingga ruang untuk menabung atau membangun dana darurat menjadi sangat terbatas. Bagi sebagian pekerja, kebutuhan sehari-hari bahkan harus dipenuhi dengan mengandalkan tabungan atau pinjaman jangka pendek.

Survei ini melibatkan ribuan responden dari berbagai sektor industri dan tingkat jabatan. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan finansial tidak hanya dialami pekerja level bawah, tetapi juga menjangkau kalangan profesional dan manajerial. Hal ini mengindikasikan bahwa tantangan ekonomi bersifat luas dan lintas segmen.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah kesulitan menabung secara konsisten. Banyak responden mengaku penghasilan mereka habis untuk kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, cicilan, dan biaya pendidikan. Kenaikan biaya hidup yang tidak selalu diimbangi dengan peningkatan pendapatan membuat stabilitas finansial menjadi semakin rapuh.

Selain itu, laporan PwC juga menyoroti dampak tekanan finansial terhadap produktivitas kerja. Karyawan yang mengalami stres keuangan cenderung lebih mudah terdistraksi, kurang fokus, dan mengalami kecemasan berkepanjangan. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi performa individu maupun kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Read More  Rasakan K-Beauty Tanpa Harus Terbang ke Korea Selatan, Bali Hadirkan NuLook Clinic

Secara makro, tekanan finansial ini tidak terlepas dari dinamika ekonomi global dan domestik. Inflasi, fluktuasi harga kebutuhan pokok, serta ketidakpastian ekonomi menjadi faktor yang mempersempit ruang fiskal rumah tangga pekerja. Di sisi lain, literasi keuangan yang belum merata juga memperburuk kemampuan sebagian pekerja dalam mengelola arus kas pribadi.

Merespons kondisi tersebut, sejumlah perusahaan mulai memperkuat program kesejahteraan karyawan, mulai dari edukasi finansial, pelatihan perencanaan keuangan, hingga skema bantuan darurat. Pendekatan ini dinilai penting karena kesejahteraan finansial pekerja berbanding lurus dengan stabilitas dan produktivitas organisasi.

Laporan Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menjadi pengingat bahwa isu kesejahteraan tenaga kerja bukan hanya soal nominal gaji, melainkan juga kemampuan pekerja untuk bertahan dan berkembang secara finansial dalam jangka panjang. Dengan hampir separuh pekerja Indonesia merasakan tekanan ekonomi, kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan pekerja sendiri menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Back to top button