Transformasi Digital Lewat G-Bionic, Pertamina Geothermal Energy Genjot Efisiensi dan Menuju Target 3 GW
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperkuat langkah transformasi digital melalui program G-Bionic untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Pemanfaatan teknologi G-Bionic menjadi langkah strategis PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) dalam meningkatkan efisiensi bisnis sekaligus memperkuat daya saing di industri energi terbarukan. Direktur Operasi PGE Ahmad Yani, yang juga menjadi inisiator program ini, menegaskan bahwa peran PGE sangat penting dalam mendukung percepatan transisi energi nasional menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Inisiatif G-Bionic mencerminkan komitmen nyata PGE terhadap pengembangan kapabilitas digital sebagaimana tercantum dalam prospektus IPO. Program ini menjadi fondasi utama dalam upaya PGE untuk mencapai target sebagai perusahaan panas bumi dengan kapasitas terbesar di dunia.
Ahmad Yani menjelaskan, optimalisasi pengembangan panas bumi harus dimulai dari dalam organisasi, dengan mengedepankan transformasi digital yang adaptif terhadap kemajuan teknologi. âPemanfaatan teknologi bukan sekadar alat, tetapi kunci untuk memperkuat daya saing dan memastikan keberlanjutan bisnis PGE di tengah dinamika energi global,â ujarnya.
Ia menambahkan, âSwasembada energi adalah fondasi kemandirian bangsa di tengah krisis iklim yang semakin nyata. Melalui transformasi digital, PGE mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat pengembangan energi bersih yang presisi dan berkelanjutan. Inilah semangat di balik peluncuran G-Bionic.â
Diluncurkan pada 2023, G-Bionic merupakan program transformasi digital jangka panjang yang menjadi pintu gerbang budaya kerja berbasis data di seluruh lini operasi PGE â mulai dari eksplorasi bawah permukaan (subsurface), pengeboran (drilling), fasilitas produksi (surface), hingga pengelolaan perusahaan (enterprise).
Ahmad Yani menegaskan bahwa teknologi ini berorientasi pada penciptaan nilai dan budaya kerja baru. âKita bukan hanya mengubah sistem, tetapi juga cara berpikir dan mengambil keputusan. G-Bionic mencakup 52 inisiatif digital di seluruh rantai operasi,â katanya.
Implementasi G-Bionic diharapkan mampu menekan biaya pemboran hingga 6 persen, mengoptimalkan 100 ribu jam kerja produktif, meningkatkan produksi hingga 6 persen, serta menciptakan value creation setara peningkatan net income 5â7 persen per tahun melalui penerapan machine learning dan digital twin.
Komitmen ini mendapat apresiasi dari Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) Raden Adjeng Sondaryani, dalam acara PGE Digital Day 2025 di Jakarta, Senin (27/10/2025). Menurutnya, G-Bionic menandai langkah konkret Pertamina dalam mempercepat transformasi digital demi mewujudkan masa depan energi hijau Indonesia.
âTransformasi digital menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan efisiensi, ketepatan pengambilan keputusan, dan daya saing jangka panjang. PGE menunjukkan langkah nyata dalam membangun budaya kerja berbasis data yang adaptif, aman, dan berkelanjutan,â ujarnya.
Direktur Utama PGE Julfi Hadi menambahkan, transformasi digital terintegrasi menjadi kunci untuk mewujudkan target 1,8 gigawatt (GW) pada 2033 dan mengembangkan potensi panas bumi hingga 3 GW. âIndonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi dunia. Melalui G-Bionic, kami mempercepat transformasi digital end-to-end guna meningkatkan efisiensi dan keberhasilan pengeboran. Inovasi ini menjadi game changer menuju visi besar PGE sebagai pemimpin energi panas bumi kelas dunia,â tegasnya.
Gelaran PGE Digital Day 2025 juga menghadirkan berbagai kegiatan, seperti G-Bionic Project Update, diskusi panel, dan sesi berbagi pengalaman dengan narasumber dari anak usaha Pertamina dan mitra digital. Acara turut dihadiri oleh Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM sekaligus Komisaris Utama PGE Gigih Udi Atmo, serta para direktur dan pemangku kepentingan industri energi.
Dalam sesi diskusi, hadir pula sejumlah tokoh digital dan teknologi seperti CEO Jejakin Arfan Arlanda, Managing Director Accenture Indonesia Debby Alishinta, Direktur Digital Bisnis Peruri Farah Fitria R., Director of Digital & Sustainability Grab Indonesia Rivana Mezaya, dan Customer Success Director Microsoft Indonesia Irving Hutagalung yang turut berbagi pandangan tentang percepatan transformasi digital di sektor energi.





