Tren Skrining Kesehatan Meningkat, Jutaan Peserta JKN Berisiko Stroke, Jantung, hingga Diabetes
Tren skrining kesehatan di Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan, dengan puluhan juta peserta JKN terdeteksi memiliki risiko penyakit kronis serius seperti stroke, jantung, diabetes, hingga kanker usus.
Kesadaran masyarakat Indonesia untuk memeriksakan kondisi kesehatan sejak dini kian menguat. Data terbaru menunjukkan tren skrining kesehatan terus meningkat, seiring makin luasnya cakupan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang saat ini telah menjangkau sekitar 79,5 juta peserta di seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 33,6 juta peserta terdeteksi memiliki risiko penyakit kronis. Risiko tertinggi masih didominasi penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes melitus, yang selama ini menjadi penyebab utama kematian dan pembiayaan kesehatan terbesar di Tanah Air.
Hasil skrining juga mengungkap temuan yang patut menjadi perhatian serius, yakni sekitar 23 juta warga Indonesia masuk kategori berisiko stroke dan penyakit jantung. Angka ini mencerminkan masih tingginya faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tidak terkontrol, kolesterol tinggi, hingga gaya hidup kurang aktif di masyarakat.
Tak hanya itu, tren peningkatan risiko kanker usus juga mulai terlihat dari hasil skrining. Kondisi ini kerap luput dari perhatian karena sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Padahal, deteksi dini melalui skrining dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan menekan biaya pengobatan yang jauh lebih besar jika penyakit ditemukan pada stadium lanjut.
Peningkatan angka skrining ini dinilai sebagai sinyal positif dalam upaya pencegahan penyakit. Semakin banyak peserta JKN yang memanfaatkan layanan skrining, semakin besar peluang sistem kesehatan untuk melakukan intervensi lebih awal, baik melalui edukasi, perubahan gaya hidup, maupun pengobatan terkontrol.
Namun, besarnya jumlah peserta berisiko juga menjadi tantangan tersendiri. Tanpa tindak lanjut yang konsisten, hasil skrining berpotensi hanya menjadi data tanpa dampak nyata. Karena itu, penguatan layanan promotif dan preventif, serta peran fasilitas kesehatan tingkat pertama, menjadi kunci agar skrining benar-benar menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kronis.
Ke depan, tren skrining yang terus meningkat diharapkan mampu mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan jangka panjang, sekaligus memperkuat keberlanjutan sistem JKN di tengah beban penyakit kronis yang kian kompleks.





