FintalkUpdate News

Waspada 5 Modus Penipuan: Dari Kepanikan hingga Janji Untung Cepat yang Mengincar Korban

Pelaku penipuan kini makin lihai memanfaatkan sisi emosional dan psikologis korban, mulai dari membuat panik, kesepian, hingga tergiur janji keuntungan besar, sehingga masyarakat perlu ekstra waspada terhadap modus-modus scam terbaru.

Penipuan atau scam tidak hanya soal tipu daya klasik yang meminta uang melalui trik sederhana, tetapi kini berkembang jauh lebih canggih dan memanfaatkan psikologi korban. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan lima modus psikologis utama yang sering digunakan pelaku scam untuk memanipulasi korban, mulai dari kepanikan hingga keserakahan atas iming-iming keuntungan instan.

Modus pertama yang sering dimanfaatkan adalah ketidaktahuan korban. Pelaku biasanya berpura-pura menjadi petugas resmi lembaga seperti aparat penegak hukum, pemerintah, atau layanan publik, sehingga korban yang belum paham prosedur resmi langsung percaya dan mengikuti instruksi tanpa verifikasi.

Selanjutnya adalah tekanan emosional berupa kepanikan atau ketakutan. Pelaku bisa menyampaikan kabar palsu bahwa anggota keluarga mengalami kecelakaan, sakit parah, atau mengalami masalah mendesak lainnya, sehingga korban dalam keadaan emosional tidak stabil cenderung mengikuti permintaan pelaku, termasuk transfer uang.

Modus ketiga yang sering terjadi adalah memanfaatkan kesepian atau hubungan emosional, seperti dalam love scam. Penipu membangun kedekatan lewat media sosial atau platform digital, lalu secara perlahan mulai meminta bantuan finansial dengan berbagai alasan, sering kali tanpa menunjukkan identitas asli mereka.

Faktor keempat yang tak kalah berbahaya adalah keserakahan dan janji keuntungan cepat. Tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat, atau produk finansial yang terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan, sering kali menjadi pintu masuk bagi korban untuk menyerahkan dana mereka — padahal skema semacam ini bisa jadi merupakan bentuk penipuan investasi, salah satunya dikenal dalam literatur internasional sebagai advance-fee scam atau penipuan biaya di muka, di mana janji keuntungan besar dijanjikan setelah pembayaran awal oleh korban.

Read More  Sering Terjadi Kecelakaan di Perlintasan Kereta, Mengapa Kendaraan Bisa Mendadak Berhenti di Rel?

Modus terakhir adalah pancingan hiburan atau tawaran barang murah tidak realistis, seperti promo wisata atau diskon belanja jauh di bawah harga pasar. Strategi ini memancing rasa ingin tahu dan kesempatan langka yang akhirnya menggiring korban untuk mengikuti instruksi pelaku tanpa mengecek kebenarannya terlebih dulu.

Selain mengandalkan psikologi, penipuan digital sering pula melibatkan teknik seperti phishing, di mana korban diarahkan ke situs palsu yang menyerupai layanan resmi guna mencuri data pribadi. Ada juga teknik social engineering yang memanfaatkan rasa percaya korban dengan berpura-pura sebagai pihak terpercaya, sehingga mudah memperoleh akses ke informasi sensitif seperti password akun atau kode OTP.

Pakar keamanan siber menegaskan pentingnya verifikasi ulang informasi sebelum bereaksi terhadap permintaan apa pun yang mencurigakan, serta tidak mudah terburu-buru dalam keadaan mendesak. Langkah sederhana seperti menghubungi lembaga resmi melalui saluran yang sah, memeriksa tautan situs, serta tidak memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak terverifikasi dapat membantu mencegah menjadi korban penipuan digital.

Meningkatnya kompleksitas modus penipuan menuntut masyarakat tidak hanya waspada secara teknis, tetapi juga memahami taktik psikologis yang biasa dipakai scammer. Edukasi dan informasi yang terus diperbarui dari lembaga resmi dapat menjadi benteng pertama dalam menjaga keamanan finansial dan data pribadi di era digital ini.

Back to top button