6 Juta Pasangan Indonesia Sulit Punya Anak, Wamenkes: Jangan Selalu Salahkan Perempuan
Pemerintah memperkirakan sekitar 4 juta hingga 6 juta pasangan usia subur mengalami kesulitan mendapatkan keturunan, faktor penyebabnya tidak hanya berasal dari perempuan
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyoroti tingginya angka infertilitas di Indonesia yang diperkirakan dialami oleh 4 juta hingga 6 juta pasangan usia subur. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kualitas dan pertumbuhan penduduk di masa depan, terutama ketika angka fertilitas nasional terus menunjukkan tren penurunan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 15 persen pasangan usia subur di Indonesia memerlukan intervensi medis untuk mengatasi gangguan kesuburan. Angka tersebut sejalan dengan data global yang menunjukkan satu dari enam pasangan di dunia mengalami infertilitas.
Namun, menurut Dante, masih banyak masyarakat yang menganggap kesulitan memiliki anak sepenuhnya merupakan masalah perempuan. Padahal secara medis, faktor laki-laki memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kasus infertilitas.
Data menunjukkan faktor pria menyumbang sekitar 30 persen kasus infertilitas. Bahkan ketika gangguan kesuburan terjadi pada kedua pasangan, kontribusi faktor pria dapat mencapai hampir 50 persen. Karena itu, pemeriksaan kesuburan seharusnya dilakukan bersama sejak awal, bukan hanya berfokus pada pihak perempuan.
Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu
Para ahli menilai meningkatnya kasus infertilitas pada pasangan muda tidak terlepas dari perubahan gaya hidup. Kurang tidur, stres berkepanjangan, obesitas, pola makan yang tidak sehat, hingga kebiasaan merokok dapat menurunkan kualitas sperma maupun sel telur. Selain itu, tren menunda kehamilan karena alasan karier dan ekonomi juga ikut berpengaruh terhadap peluang memiliki anak.
Pakar fertilitas Prof Budi Wiweko mengungkapkan sekitar 35 persen gangguan kesuburan berasal dari faktor sperma. Karena itu, pemeriksaan pada laki-laki seharusnya menjadi bagian penting dalam proses diagnosis infertilitas.
Sementara pada perempuan, penyebab yang paling sering ditemukan adalah gangguan pematangan sel telur, endometriosis, sindrom ovarium polikistik (PCOS), hingga gangguan hormonal yang memengaruhi siklus menstruasi.
Wamenkes juga mengingatkan bahwa layanan fertilitas bukan sekadar layanan kesehatan biasa. Banyak pasangan datang dengan harapan besar untuk memiliki keturunan setelah bertahun-tahun berusaha. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan layanan kesehatan reproduksi dan fertilitas di berbagai daerah. Saat ini telah tersedia puluhan klinik fertilitas di sejumlah provinsi yang didukung teknologi reproduksi modern.
Para dokter mengimbau pasangan yang telah menikah lebih dari satu tahun dan rutin berhubungan tanpa kontrasepsi tetapi belum memperoleh kehamilan agar segera melakukan pemeriksaan. Semakin cepat penyebab infertilitas diketahui, semakin besar peluang keberhasilan penanganan melalui perubahan gaya hidup, terapi medis, inseminasi, maupun program bayi tabung.
Masalah infertilitas, kata para ahli, bukan hanya soal memiliki anak atau tidak, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi yang perlu dijaga sejak usia muda.



