El Nino “Godzilla” Picu Cuaca Panas Ekstrem, IDAI Minta Orang Tua Batasi Aktivitas Anak
Cuaca panas ekstrem akibat fenomena El Nino “Godzilla” meningkatkan risiko kesehatan anak, sehingga orang tua diminta membatasi aktivitas luar ruangan.
Fenomena El Nino yang disebut “Godzilla” mulai menjadi perhatian serius karena memicu cuaca panas ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua untuk lebih waspada dan membatasi aktivitas anak di luar ruangan selama kondisi cuaca ekstrem berlangsung. Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyarankan agar anak lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan guna mengurangi paparan panas berlebih.
Ia menjelaskan bahwa perubahan cuaca yang drastis membuat tubuh anak harus bekerja lebih keras untuk beradaptasi. Kondisi ini dapat menyebabkan anak lebih cepat lelah dan daya tahan tubuh menurun sehingga lebih rentan terserang penyakit.
Selain membatasi aktivitas luar ruangan, IDAI juga menekankan pentingnya menjaga asupan nutrisi anak. Konsumsi makanan bergizi, terutama protein hewani, dinilai penting untuk menjaga daya tahan tubuh agar anak tetap fit menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Fenomena El Nino “Godzilla” sendiri merujuk pada kondisi El Nino dengan intensitas sangat kuat yang dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang, panas, dan kering dari biasanya. Dampaknya, kualitas udara juga berpotensi menurun karena minimnya hujan yang biasanya membantu membersihkan polutan di udara.
Dalam situasi ini, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Sistem pengaturan suhu tubuh mereka yang belum sempurna membuat risiko dehidrasi, kelelahan panas, hingga gangguan pernapasan meningkat.
Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam menjaga kesehatan anak. Selain membatasi aktivitas luar ruangan, orang tua juga disarankan memastikan anak cukup minum, menjaga kebersihan lingkungan, serta memantau kondisi kesehatan secara berkala.
Dengan meningkatnya suhu dan potensi polusi udara selama musim kemarau, kewaspadaan sejak dini dinilai menjadi langkah utama untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih serius pada anak.





