Robot Humanoid Mulai Bekerja di Pabrik Xiaomi, Akankah Mengurangi Jumlah Pekerja?
Perusahaan teknologi China, Xiaomi, mulai menguji robot humanoid di pabrik mobil listriknya, memicu pertanyaan besar: apakah teknologi ini akan menggantikan pekerja manusia di masa depan?
Perkembangan teknologi robotika semakin cepat. Terbaru, perusahaan teknologi asal China, Xiaomi mulai menguji penggunaan robot humanoid di pabrik kendaraan listriknya sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi produksi.
Uji coba ini dilakukan di fasilitas produksi mobil listrik Xiaomi. Dalam tahap awal, dua robot humanoid dikerahkan untuk membantu pekerjaan di lini produksi, seperti memasang mur dan memindahkan komponen.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengatakan robot tersebut mampu menyelesaikan sekitar 90 persen tugas yang diberikan hanya dalam waktu tiga jam. Robot juga dapat mengikuti ritme produksi pabrik yang sangat cepat, di mana satu mobil baru bisa selesai dirakit setiap 76 detik.
Meski begitu, penggunaan robot humanoid ini masih dalam tahap awal. Lu Weibing menyebut robot tersebut saat ini lebih mirip âpekerja magangâ yang masih belajar bekerja di lingkungan pabrik.
Robot yang digunakan merupakan bagian dari proyek robot humanoid Xiaomi yang diperkenalkan sejak 2022, dikenal dengan nama CyberOne. Robot ini dirancang agar mampu bekerja di lingkungan yang sama dengan manusia serta menggunakan alat yang biasa dipakai pekerja pabrik.
Akankah Mengurangi Pekerja?
Munculnya robot humanoid di pabrik tentu memunculkan kekhawatiran soal masa depan tenaga kerja manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan industri mulai mengadopsi robot untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi.
Namun sejauh ini, Xiaomi menegaskan bahwa penggunaan robot masih bersifat eksperimen. Robot digunakan untuk membantu pekerjaan tertentu, terutama yang bersifat repetitif atau membutuhkan presisi tinggi.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai robot humanoid kemungkinan tidak langsung menggantikan pekerja manusia sepenuhnya. Teknologi ini justru dapat mengubah jenis pekerjaan di pabrik, dari pekerjaan fisik menjadi pekerjaan yang lebih teknis seperti pengawasan sistem, pemrograman, dan perawatan robot.
Pendiri Xiaomi, Lei Jun, bahkan memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan akan ada lebih banyak robot humanoid yang bekerja di pabrik perusahaan tersebut sebagai bagian dari sistem manufaktur pintar.
Meski demikian, para pakar industri menilai manusia masih tetap dibutuhkan karena robot belum sepenuhnya mampu menggantikan kemampuan adaptasi, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang dimiliki pekerja manusia.
Dengan kata lain, robot kemungkinan akan menjadi rekan kerja baru di pabrik, bukan sepenuhnya menggantikan manusia.





