TechnoUpdate News

AI Jadi Jalan Pintas Belajar? Pakar Harvard Ingatkan Risiko bagi Cara Berpikir Siswa

Kemudahan kecerdasan buatan (AI) membantu siswa menyelesaikan tugas lebih cepat, tetapi para pakar pendidikan dari Harvard mengingatkan teknologi ini juga berpotensi mengubah cara berpikir dan proses belajar anak.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi dunia pendidikan. Tugas sekolah yang dulu membutuhkan waktu lama kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit dengan bantuan chatbot berbasis AI.

Namun di balik kemudahan tersebut, para pakar pendidikan dari Harvard University mengingatkan adanya risiko baru bagi cara siswa belajar dan berpikir.

Dalam sebuah diskusi pendidikan yang disiarkan melalui siniar Harvard Thinking, para peneliti menyoroti bahwa AI memang bisa menjadi alat bantu yang sangat kuat dalam proses belajar. Teknologi ini dapat membantu mencari referensi, memberikan umpan balik, hingga menjelaskan konsep yang sulit dipahami.

Meski begitu, para ahli menilai penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat siswa melewati proses penting dalam belajar, yakni berpikir kritis, mencoba memecahkan masalah, dan memahami materi secara mendalam. Ketika jawaban dapat diperoleh secara instan dari chatbot, sebagian siswa mungkin tidak lagi melalui proses berpikir yang sebenarnya menjadi inti dari pendidikan.

Peneliti dari Harvard Graduate School of Education, Ding Xu, menjelaskan bahwa belajar tidak hanya soal mengumpulkan informasi. Proses belajar juga membentuk kemampuan seseorang untuk memahami, menganalisis, dan mengembangkan pengetahuan baru.

“Yang dipelajari siswa bukan hanya fakta dan informasi, tetapi juga kemampuan untuk belajar itu sendiri,” ujarnya. Kemampuan tersebut menjadi dasar bagi siswa untuk terus berkembang di masa depan.

Kekhawatiran tersebut juga terlihat dari hasil survei terhadap sekitar 7.000 siswa SMA. Hampir setengah responden mengaku terlalu sering mengandalkan AI dalam belajar. Bahkan lebih dari 40 persen di antaranya mengaku telah mencoba mengurangi penggunaan AI, namun merasa kesulitan melakukannya.

Read More  AI Bukan untuk Menggantikan Guru, Tegas Menko Pratikno

Para pakar menilai kondisi ini menunjukkan pentingnya kemampuan pengendalian diri dalam menggunakan teknologi. AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir siswa.

Beberapa pendidik bahkan mulai mengubah metode pengajaran agar siswa tetap aktif berpikir. Misalnya dengan memberikan tugas yang menuntut siswa menciptakan pertanyaan atau masalah baru, bukan sekadar mencari jawaban dari internet atau AI.

Selain itu, para ahli menegaskan bahwa peran guru dan interaksi sosial di kelas tetap tidak tergantikan oleh teknologi. Hubungan antara guru dan siswa berperan penting dalam membangun motivasi belajar, kepercayaan diri, serta perkembangan emosional yang tidak dapat diberikan oleh mesin.

Karena itu, para pakar menyarankan agar sekolah, guru, dan orang tua bersama-sama mengarahkan penggunaan AI secara bijak. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi ini bisa menjadi alat yang memperkaya proses belajar, bukan justru melemahkan kemampuan berpikir generasi muda.

Back to top button