Paylater Bikin Ketagihan, Utang Menumpuk karena Bayar Selalu Ditunda
Kemudahan layanan paylater membuat sebagian masyarakat terjebak dalam pola konsumsi impulsif, bahkan muncul anggapan lebih baik menunda pembayaran utang demi menjaga uang tetap tersedia untuk kebutuhan lain.
Fenomena kecanduan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater semakin marak di masyarakat perkotaan. Kemudahan transaksi tanpa harus membayar langsung membuat sebagian pengguna cenderung menunda kewajiban pembayaran, bahkan muncul pola pikir âbiarkan utang dulu, sayang uangnya kalau langsung dibayarâ.
Paylater awalnya hadir sebagai solusi keuangan instan yang memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan mendesak. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko perilaku konsumtif yang berujung pada penumpukan utang, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang.
Pengamat keuangan menilai konsep âbeli sekarang, bayar nantiâ dapat mengaburkan persepsi pengeluaran karena pengguna tidak langsung merasakan berkurangnya uang saat bertransaksi. Akibatnya, sebagian orang cenderung melakukan pembelian berulang tanpa menyadari akumulasi kewajiban yang harus dibayar di kemudian hari.
Data menunjukkan penggunaan layanan BNPL terus meningkat di kalangan generasi muda, didorong oleh kemudahan akses digital, promosi, serta gaya hidup praktis. Namun, rendahnya literasi keuangan dinilai menjadi faktor yang membuat sebagian pengguna kurang memahami risiko bunga, denda keterlambatan, serta dampak terhadap skor kredit.
Selain berdampak pada kondisi finansial, beban utang digital juga dapat memicu stres psikologis, kecemasan, hingga konflik sosial. Para ahli menekankan pentingnya edukasi keuangan agar masyarakat memahami bahwa paylater bukan uang gratis, melainkan fasilitas kredit yang harus dikelola secara bijak.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengingatkan masyarakat untuk menggunakan layanan kredit digital secara bertanggung jawab. Pengguna disarankan memastikan kemampuan membayar sebelum bertransaksi, membatasi jumlah cicilan, serta memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan.
Fenomena kecanduan paylater menjadi pengingat bahwa kemudahan teknologi finansial harus diimbangi dengan literasi keuangan yang kuat agar tidak berubah menjadi jebakan utang jangka panjang.





