Uang Palsu Masih Banyak Beredar, Begini Cara Mengenali Rupiah Asli Saat Bertransaksi
Peredaran uang palsu masih menjadi ancaman bagi masyarakat, terutama saat transaksi tunai.
Kasus uang palsu kembali mencuat setelah Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap peredaran uang palsu pecahan Rp100 ribu dengan nilai mencapai sekitar Rp620 juta. Polisi menangkap satu pelaku berinisial MP di sebuah kamar hotel di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, dan menyita berbagai peralatan produksi seperti printer, tinta, serta alat pemotong kertas.
Kasubdit II Ekbank Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Robby Syahfery menyatakan penyelidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk lebih teliti saat menerima uang tunai, terutama pecahan besar.
Temuan uang palsu dalam jumlah besar tersebut menunjukkan bahwa kejahatan pemalsuan uang masih terjadi dan berpotensi merugikan masyarakat serta merusak kepercayaan terhadap mata uang Rupiah. Aparat kepolisian menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam membantu mencegah peredaran uang palsu dengan cara mengenali ciri keaslian uang.
Bank Indonesia secara konsisten mengedukasi masyarakat melalui metode 3D, yakni Dilihat, Diraba, dan Diterawang untuk memastikan keaslian uang Rupiah.
Cara mengenali uang palsu saat transaksi
1. Dilihat
Perhatikan warna uang, gambar pahlawan, serta detail cetakan. Uang asli memiliki warna tajam dan tidak mudah pudar. Terdapat pula gambar tersembunyi dan rectoverso (gambar saling mengisi saat diterawang).
2. Diraba
Uang asli memiliki tekstur kasar pada bagian tertentu, seperti gambar pahlawan dan angka nominal. Teknik cetak khusus membuat permukaan uang terasa berbeda dibanding uang palsu yang cenderung lebih halus.
3. Diterawang
Saat diterawang ke arah cahaya, uang asli memiliki tanda air (watermark) dan benang pengaman yang tertanam di dalam kertas uang.
Selain metode 3D, masyarakat juga dapat memperhatikan adanya perubahan warna pada angka nominal tertentu ketika dilihat dari sudut berbeda (color shifting). Fitur ini sulit ditiru oleh pelaku pemalsuan.
Pengamat ekonomi menilai literasi keuangan masyarakat menjadi kunci penting untuk menekan peredaran uang palsu. Semakin tinggi kesadaran masyarakat, semakin kecil peluang uang palsu beredar luas di pasar.
Kasus di Bogor menunjukkan sindikat uang palsu masih memanfaatkan transaksi tunai sebagai celah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama saat bertransaksi di tempat ramai, pasar tradisional, atau transaksi dengan nominal besar.
Jika menemukan uang yang dicurigai palsu, masyarakat dapat melapor ke kantor polisi terdekat atau melalui layanan call center Polri 110 agar segera ditindaklanjuti.





