Malaria Knowlesi Mulai Mengintai, Lebih Berbahaya dari Malaria Biasa?
Kasus malaria knowlesi di Indonesia mulai menjadi perhatian setelah Aceh dilaporkan menjadi wilayah dengan kasus tertinggi
Ancaman malaria knowlesi mulai menjadi sorotan di Indonesia setelah meningkatnya temuan kasus di sejumlah daerah, terutama di Aceh. Penyakit yang juga dikenal sebagai “monkey malaria” ini berbeda dari malaria biasa karena berasal dari parasit yang umumnya menginfeksi monyet dan dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles di kawasan hutan.
Laporan yang dimuat Kompas.com menyebut Aceh menjadi wilayah dengan kasus malaria knowlesi tertinggi di Indonesia. Kondisi ini membuat para ahli meminta peningkatan kewaspadaan, terutama bagi masyarakat yang tinggal atau bekerja di sekitar area hutan dan perkebunan.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan jurnal Infection pada Maret 2026 menunjukkan malaria knowlesi di Aceh banyak menyerang pekerja perkebunan dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan. Sebagian besar pasien diketahui merupakan laki-laki usia produktif dengan paparan lingkungan hutan yang tinggi.
Bisa Berkembang Lebih Cepat
Dokter menjelaskan malaria knowlesi dinilai lebih berbahaya karena parasit Plasmodium knowlesi memiliki siklus reproduksi yang jauh lebih cepat dibanding beberapa jenis malaria lain. Dalam waktu sekitar 24 jam, jumlah parasit di dalam darah dapat meningkat drastis apabila tidak segera ditangani.
Kondisi tersebut membuat pasien berisiko mengalami komplikasi serius seperti gangguan pernapasan, gagal ginjal, kerusakan hati, hingga penurunan kesadaran. Di beberapa kasus, keterlambatan diagnosis dapat berujung fatal.
Dinas Kesehatan Aceh Jaya sebelumnya juga mengungkap adanya puluhan kasus malaria knowlesi yang diduga berasal dari penularan monyet ke manusia. Meski demikian, para peneliti menyebut sebagian besar pasien dapat pulih setelah mendapatkan terapi antimalaria yang tepat dan cepat.
Pakar kesehatan menilai meningkatnya kasus malaria knowlesi tidak lepas dari perubahan lingkungan seperti deforestasi, pembukaan lahan, hingga ekspansi perkebunan yang membuat interaksi manusia dengan habitat monyet dan nyamuk hutan semakin intensif.
Kelompok yang paling rentan terpapar antara lain pekerja perkebunan, penebang kayu, pekerja tambang, hingga masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Gejala malaria knowlesi sendiri umumnya mirip dengan malaria biasa, mulai dari demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, hingga tubuh lemas. Karena gejalanya mirip penyakit lain, banyak kasus baru diketahui setelah kondisi pasien memburuk.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menargetkan eliminasi malaria secara nasional pada 2030. Namun kemunculan malaria knowlesi dinilai menjadi tantangan baru karena penyakit ini termasuk zoonosis, yakni penyakit yang memiliki reservoir alami pada hewan.
Dokter mengingatkan masyarakat untuk menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di kawasan hutan, memakai obat anti nyamuk, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami demam setelah bepergian dari daerah endemis malaria.





