HealthcareUpdate News

40 Persen Orang Kini Mulai Menghindari Berita, Fenomena “News Avoidance”

Fenomena masyarakat yang mulai sengaja menghindari berita atau news avoidance kini semakin meningkat, dipicu banjir informasi negatif, kelelahan mental,

Semakin banyak orang kini memilih menjauh dari berita harian meski akses informasi semakin mudah dan cepat. Fenomena ini dikenal sebagai news avoidance, yakni kondisi ketika seseorang secara sengaja membatasi bahkan menghindari konsumsi berita karena merasa lelah, stres, atau tidak percaya lagi terhadap isi pemberitaan.

Laporan terbaru yang dikutip Kompas.com menyebut sekitar 40 persen masyarakat mulai mengurangi konsumsi berita secara aktif. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi industri media di tengah era banjir informasi digital.

Pengamat media menilai salah satu penyebab utama fenomena ini adalah meningkatnya paparan berita negatif setiap hari, mulai dari konflik politik, perang, krisis ekonomi, hingga kriminalitas yang terus muncul di media sosial maupun platform digital.

Di sisi lain, algoritma media sosial juga memperparah kondisi karena cenderung menampilkan konten yang memicu emosi tinggi seperti kemarahan, ketakutan, dan kontroversi agar pengguna bertahan lebih lama di platform.

Akibatnya, banyak orang mengalami information fatigue atau kelelahan informasi. Mereka merasa terus-menerus dibanjiri kabar buruk yang memengaruhi kondisi psikologis dan kesehatan mental.

Fenomena ini juga diperkuat menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap media. Penyebaran hoaks, judul sensasional (clickbait), serta polarisasi informasi membuat sebagian masyarakat mulai mempertanyakan kredibilitas berita yang mereka konsumsi.

Generasi muda disebut menjadi kelompok yang paling banyak mengalami news avoidance. Mereka cenderung memilih konten yang lebih ringan, singkat, visual, dan relevan secara personal dibanding membaca berita panjang yang dianggap melelahkan.

Read More  Kecelakaan di Gerbang Tol: Ancaman Berulang bagi Pengguna Jalan

Kondisi ini memaksa industri media melakukan perubahan strategi, termasuk menghadirkan format berita yang lebih humanis, konstruktif, dan solutif agar tetap relevan bagi audiens digital.

Sejumlah media global mulai mengembangkan pendekatan constructive journalism, yaitu penyajian berita yang tidak hanya fokus pada masalah, tetapi juga solusi dan dampak positif agar pembaca tidak merasa terjebak dalam siklus kabar buruk tanpa harapan.

Apabila tren news avoidance terus meningkat, bukan hanya industri media yang terdampak, tetapi juga kualitas literasi publik dan partisipasi masyarakat terhadap isu sosial maupun demokrasi.

Back to top button