WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal Tiap Tahun Akibat Makanan Tidak Sehat, Bagaimana Kondisinya di Indonesia?
Pola makan tidak sehat menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia,
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan bahwa sekitar 1,5 juta orang meninggal setiap tahun akibat konsumsi makanan yang tidak sehat, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena kebiasaan makan yang terbentuk sejak usia dini. Dampaknya tidak hanya berupa obesitas, tetapi juga peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Peringatan tersebut relevan bagi Indonesia. WHO menyebut faktor risiko terkait pola makan kini menjadi penyumbang terbesar ketiga terhadap kematian dan disabilitas di Indonesia. Lebih dari separuh kematian akibat penyakit jantung berkaitan dengan pola makan yang tidak sehat. Selain itu, hampir sepertiga kematian akibat stroke dan sekitar seperlima kematian akibat diabetes juga terkait dengan faktor diet.
Obesitas dan Penyakit Tidak Menular Terus Meningkat
Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menghadapi peningkatan kasus obesitas dan penyakit tidak menular. WHO mencatat angka obesitas pada orang dewasa meningkat dari 15,4 persen menjadi 23,4 persen dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, hampir satu dari lima remaja di Indonesia kini mengalami kelebihan berat badan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit kronis. Penelitian yang menganalisis data Survei Kesehatan Indonesia menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi makanan berisiko tinggi, obesitas, dan meningkatnya prevalensi diabetes, hipertensi, penyakit jantung, hingga penyakit ginjal kronis.
Bahkan, berbagai kajian menunjukkan bahwa penyakit tidak menular kini menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Sekitar 52 persen kematian di Indonesia terkait dengan penyakit tidak menular yang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, termasuk pola makan.
Anak-anak Menjadi Kelompok yang Paling Rentan
Masalah makanan tidak sehat tidak hanya terjadi pada orang dewasa. UNICEF telah lama memperingatkan bahwa pola makan buruk mulai mengancam kesehatan anak-anak Indonesia. Konsumsi makanan ultra-proses, camilan tinggi gula, minuman berpemanis, dan makanan cepat saji semakin mudah dijangkau anak-anak maupun remaja.
Data WHO dan UNICEF menunjukkan sekitar satu dari lima anak usia sekolah dasar di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi serupa juga terjadi pada sekitar satu dari tujuh remaja.
Menurut para ahli, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak sejak usia dini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, serta penyakit jantung pada usia yang lebih muda.
Mengapa Pola Makan Tidak Sehat Terus Meningkat?
Perubahan gaya hidup perkotaan menjadi salah satu faktor utama. Masyarakat cenderung memilih makanan yang praktis, cepat saji, dan mudah diperoleh dibandingkan makanan segar seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan sumber protein sehat.
Sebuah studi mengenai pola konsumsi masyarakat Indonesia menemukan bahwa sebagian besar rumah tangga sebenarnya mampu mengakses pola makan sehat, namun pilihan konsumsi lebih banyak diarahkan pada makanan olahan, makanan siap saji, serta produk tinggi gula dan lemak karena faktor rasa, kenyamanan, dan pengaruh pemasaran.
Pemerintah Mulai Mengetatkan Pengawasan
Melihat tren yang mengkhawatirkan tersebut, pemerintah bersama WHO tengah menyusun berbagai regulasi untuk menekan konsumsi makanan tidak sehat. Salah satu fokusnya adalah pengendalian pemasaran makanan dan minuman yang tinggi gula, garam, dan lemak kepada anak-anak.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan program pemeriksaan kesehatan gratis untuk mendeteksi lebih dini risiko penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung yang erat kaitannya dengan pola makan.
Para ahli menilai upaya pencegahan harus dimulai dari keluarga melalui pembiasaan konsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak buah dan sayuran, membatasi minuman manis, serta mengurangi makanan ultra-proses.
Jika tren konsumsi makanan tidak sehat tidak dikendalikan, Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan kasus penyakit tidak menular yang lebih besar dalam beberapa dekade mendatang, dengan anak-anak dan generasi muda menjadi kelompok yang paling terdampak.





