TechnoUpdate News

Para Bos Teknologi Ramal Kematian Smartphone, Benarkah Akan Terjadi atau Sekadar Strategi Bisnis?

Sejumlah tokoh teknologi dunia ramai-ramai meramalkan era smartphone akan berakhir, tetapi banyak analis menilai kematiannya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Prediksi tersebut kembali mengemuka setelah CEO Snap Evan Spiegel memperkenalkan kacamata augmented reality (AR) terbaru bernama Specs. Spiegel meyakini masyarakat mulai lelah menghabiskan waktu menatap layar ponsel dan siap beralih ke cara baru dalam berinteraksi dengan teknologi. Menurutnya, hampir dua dekade setelah kelahiran iPhone, konsumen mulai mencari pengalaman komputasi yang lebih natural dan tidak bergantung pada layar smartphone.

Spiegel bukan satu-satunya. Pendiri Meta, Mark Zuckerberg, telah berulang kali menyatakan bahwa kacamata pintar akan menggantikan smartphone sebagai perangkat utama komputasi pribadi dalam dekade mendatang. Meta sendiri terus menggelontorkan investasi besar pada teknologi AR dan AI melalui pengembangan smart glasses.

Di sisi lain, CEO OpenAI, Sam Altman, juga berpendapat bahwa smartphone dan komputer saat ini tidak dirancang untuk masa depan AI. Bersama mantan desainer Apple, Jony Ive, ia tengah mengembangkan perangkat AI generasi baru yang disebut-sebut dapat menghadirkan interaksi tanpa layar.

CEO Qualcomm, Cristiano Amon, bahkan memprediksi bahwa agen AI akan mengambil alih banyak fungsi aplikasi yang selama ini dijalankan melalui smartphone. Menurutnya, interaksi digital di masa depan akan lebih banyak dilakukan melalui perangkat wearable seperti kacamata pintar, earbud, atau perangkat AI lainnya.

Prediksi atau Kepentingan Bisnis?

Meski terdengar futuristis, muncul pertanyaan apakah ramalan tersebut benar-benar berdasarkan tren teknologi atau justru bagian dari strategi bisnis perusahaan-perusahaan teknologi.

Jawabannya kemungkinan berada di tengah-tengah.

Hampir seluruh perusahaan yang paling vokal memprediksi berakhirnya era smartphone saat ini sedang mengembangkan produk penggantinya. Meta menjual kacamata pintar, Snap mengembangkan perangkat AR, OpenAI masuk ke bisnis perangkat keras AI, sementara Qualcomm memasok chip untuk berbagai perangkat wearable generasi baru.

Read More  HR-OD Transform Community Gelar Webinar Perdana, Kupas Formula Sukses 4DX & BSC

Artinya, terdapat kepentingan ekonomi yang sangat besar di balik narasi “post-smartphone”. Pasar smartphone global sudah relatif matang dengan pertumbuhan yang melambat. Untuk menciptakan sumber pendapatan baru, industri teknologi membutuhkan kategori produk baru yang mampu memicu siklus pembelian massal seperti yang pernah dilakukan smartphone pada era 2007 hingga 2020.

Dalam sejarah industri teknologi, pola semacam ini bukan hal baru. Ketika PC mendominasi pasar, banyak pihak memprediksi tablet akan menggantikannya. Namun yang terjadi justru PC tetap bertahan dan hidup berdampingan dengan perangkat baru. Hal serupa juga terjadi pada televisi, radio, dan laptop yang tidak sepenuhnya hilang meskipun muncul teknologi pengganti.

Smartphone Masih Sulit Digantikan

Meski teknologi wearable berkembang pesat, smartphone masih memiliki sejumlah keunggulan yang sulit disaingi.

Perangkat ini menggabungkan layar besar, kamera, konektivitas, sistem pembayaran, hiburan, produktivitas, navigasi, hingga identitas digital dalam satu perangkat yang mudah dibawa ke mana saja. Banyak upaya menggantikannya selama beberapa tahun terakhir justru gagal memperoleh pasar yang signifikan.

Perangkat seperti Humane AI Pin maupun Rabbit R1, misalnya, sempat digadang-gadang sebagai awal era pasca-smartphone. Namun keduanya belum mampu menarik pengguna dalam jumlah besar karena masih bergantung pada smartphone untuk berbagai fungsi penting.

Selain itu, tantangan privasi juga menjadi hambatan utama. Kacamata pintar yang selalu aktif merekam lingkungan sekitar menimbulkan kekhawatiran baru terkait pengawasan dan keamanan data pribadi. Isu tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu faktor yang memperlambat adopsi massal perangkat wearable AI.

Meski demikian, arah perkembangan teknologi menunjukkan bahwa perangkat AI dan wearable akan semakin penting dalam beberapa tahun mendatang. Apple, Meta, Google, OpenAI, hingga Qualcomm kini sama-sama berlomba mengembangkan perangkat yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan AI secara lebih alami tanpa harus terus-menerus membuka aplikasi atau menatap layar.

Read More  Air Jakarta Didominasi Kondisi Tercemar Berat, Pakar Ungkap Penyebab dan Serukan Perbaikan Mendesak

Alih-alih mengalami “kematian”, smartphone kemungkinan akan mengalami transformasi. Dalam beberapa tahun ke depan, ponsel pintar berpotensi berubah menjadi pusat kendali yang bekerja bersama kacamata pintar, earbud AI, jam tangan pintar, dan berbagai perangkat wearable lainnya. Dengan kata lain, masa depan teknologi mungkin bukan tanpa smartphone, melainkan smartphone yang tidak lagi menjadi satu-satunya perangkat utama dalam kehidupan digital manusia.

Back to top button