Riset Ungkap Milenial dan Gen Z Lebih Cepat “Jompo”, Apa Penyebabnya?
Riset terbaru mengungkap bahwa Milenial dan Gen Z mengalami penuaan biologis lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga risiko berbagai penyakit kronis muncul pada usia yang semakin muda.
Selama ini banyak orang menganggap tubuh yang terasa mudah lelah, pegal, atau menurunnya stamina di usia 20 hingga 30 tahun hanyalah dampak kesibukan sehari-hari. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kondisi tersebut bisa menjadi tanda penuaan biologis yang berlangsung lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya.
Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 150 ribu orang dewasa, para ilmuwan menganalisis sembilan biomarker darah menggunakan metode yang dikenal sebagai PhenoAge. Berbeda dengan usia kronologis yang dihitung berdasarkan tanggal lahir, usia biologis menggambarkan kondisi sebenarnya dari organ, jaringan, dan sel tubuh.
Biomarker yang diperiksa meliputi kadar C-Reactive Protein (CRP) sebagai penanda peradangan, kadar glukosa darah, kreatinin untuk menilai fungsi ginjal, serta jumlah sel darah putih yang mencerminkan kondisi sistem kekebalan tubuh. Dari hasil pemeriksaan tersebut, peneliti menemukan bahwa individu yang lahir pada era 1990-an memiliki usia biologis yang jauh lebih tua dibandingkan generasi yang lahir pada akhir 1960-an ketika berada pada usia yang sama.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa berbagai penyakit yang sebelumnya identik dengan usia lanjut kini semakin sering ditemukan pada kelompok usia muda. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga berbagai jenis kanker pada usia di bawah 55 tahun menunjukkan tren peningkatan di banyak negara.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa setiap peningkatan skor penuaan biologis berkaitan dengan kenaikan risiko kanker usia muda. Risiko kanker paru-paru, misalnya, dapat meningkat hingga 57 persen pada individu dengan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih cepat. Para peneliti juga menemukan hubungan antara penuaan sistem imun dengan meningkatnya risiko kanker paru, sementara penuaan jaringan lemak berkaitan dengan kanker kolorektal atau kanker usus besar.
Lalu, mengapa generasi muda bisa mengalami penuaan lebih cepat?
Para ahli menilai penyebabnya bukan hanya satu faktor, melainkan kombinasi gaya hidup modern. Pola makan tinggi gula, garam, makanan ultra-proses, minim konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, serta meningkatnya angka obesitas menjadi pemicu utama percepatan penuaan sel. Kondisi tersebut diperparah oleh stres berkepanjangan, kurang tidur, kebiasaan duduk terlalu lama, dan paparan polusi lingkungan.
Kebiasaan begadang juga menjadi perhatian. Tidur yang tidak cukup membuat tubuh kehilangan waktu untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu peradangan kronis yang mempercepat proses penuaan biologis.
Stres yang tinggi juga memainkan peran penting. Tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, masalah keuangan, hingga paparan informasi tanpa henti melalui media digital membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Akibatnya, hormon stres seperti kortisol meningkat dan mempercepat kerusakan sel apabila berlangsung dalam waktu lama.
Selain itu, gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk kini semakin umum di kalangan Milenial dan Gen Z. Banyak aktivitas dilakukan di depan komputer atau ponsel, baik untuk bekerja maupun hiburan. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan massa otot menurun, metabolisme melambat, dan risiko penyakit metabolik meningkat.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penuaan biologis bukanlah proses yang tidak bisa diubah. Berbeda dengan usia kronologis, usia biologis dapat diperlambat melalui perubahan gaya hidup. Olahraga secara rutin, tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengelola stres, menghindari rokok dan alkohol, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu menjaga kesehatan sel dan organ tubuh.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan sebaiknya dimulai sejak usia muda. Tubuh yang terlihat sehat belum tentu memiliki usia biologis yang sama baiknya. Semakin dini gaya hidup sehat diterapkan, semakin besar peluang untuk mencegah penyakit kronis dan mempertahankan kualitas hidup hingga usia lanjut



