Teknologi BRIN Diklaim Bisa Hemat Subsidi LPG Rp26 Triliun, Bagaimana Caranya?
Teknologi kompor berbahan bakar campuran dimetil eter (DME) dan LPG berpotensi menghemat anggaran subsidi LPG hingga Rp26 triliun
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengklaim sebuah teknologi baru yang dikembangkannya berpotensi menghemat anggaran subsidi liquefied petroleum gas (LPG) hingga Rp26 triliun, membuka peluang besar bagi pemerintah untuk meningkatkan efisiensi belanja energi nasional.
Potensi penghematan tersebut berasal dari pemanfaatan teknologi kompor berbahan bakar campuran dimetil eter (DME) dan LPG. Berdasarkan laporan yang dikutip Detik Finance, hasil uji coba menunjukkan kompor tersebut mampu menggunakan campuran DME dengan LPG tanpa harus mengganti peralatan memasak yang digunakan masyarakat secara signifikan.
Selama ini, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi LPG 3 kilogram dalam jumlah yang sangat besar setiap tahun. Tingginya konsumsi LPG nasional sebagian besar masih dipenuhi melalui impor sehingga membuat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus meningkat ketika harga energi dunia mengalami kenaikan atau nilai tukar rupiah melemah.
Di sinilah DME dipandang sebagai salah satu alternatif. DME merupakan senyawa kimia yang memiliki karakteristik pembakaran hampir menyerupai LPG sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga. Di Indonesia, DME bahkan dapat diproduksi dari berbagai sumber daya dalam negeri, seperti batu bara berkalori rendah, biomassa, maupun limbah organik, sehingga ketergantungan terhadap LPG impor berpotensi dikurangi.
Menurut BRIN, penggunaan campuran DME dengan LPG memungkinkan konsumsi LPG murni menjadi lebih rendah. Apabila teknologi tersebut diterapkan secara luas, kebutuhan impor LPG dapat berkurang sehingga pemerintah tidak perlu mengeluarkan subsidi sebesar saat ini. Dari hasil kajian BRIN, potensi penghematan anggaran negara diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp26 triliun.
Selain mengurangi impor, penggunaan DME juga dinilai dapat meningkatkan ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki sumber daya yang dapat diolah menjadi DME sehingga pasokan energi rumah tangga tidak lagi terlalu bergantung pada kondisi pasar internasional.
Meski demikian, implementasi teknologi tersebut masih memerlukan sejumlah tahapan sebelum dapat diterapkan secara luas. Pemerintah perlu memastikan kesiapan industri, infrastruktur distribusi, standar keamanan, serta penerimaan masyarakat terhadap penggunaan campuran DME dan LPG. Pengembangan ekosistem produksi dalam negeri juga menjadi faktor penting agar manfaat ekonominya benar-benar dapat dirasakan.
Sejumlah pengamat energi menilai diversifikasi sumber energi rumah tangga memang perlu terus didorong. Ketergantungan terhadap satu jenis bahan bakar membuat anggaran subsidi sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia maupun fluktuasi nilai tukar rupiah. Dengan memperluas pilihan energi, risiko tersebut dapat ditekan.
Bagi masyarakat, penerapan teknologi ini diharapkan tidak mengubah cara menggunakan kompor secara drastis. Fokus utama pengembangan adalah menghadirkan bahan bakar alternatif yang tetap aman, mudah digunakan, dan memiliki kinerja yang setara dengan LPG konvensional.
Apabila pengembangan DME berhasil dikomersialkan secara luas, manfaatnya tidak hanya berupa penghematan subsidi negara. Indonesia juga berpeluang memperkuat kemandirian energi, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan nilai tambah dari pemanfaatan sumber daya domestik. Namun, keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada kesiapan teknologi, investasi industri, serta kebijakan pemerintah dalam mendorong transisi menuju bauran energi yang lebih beragam dan berkelanjutan.





