Jangan Sering Telat Makan, Ini yang Bisa Terjadi pada Tubuh
Menunda waktu makan terlalu lama bukan hanya membuat perut lapar, tetapi juga dapat memicu rasa perih, kembung, dan gangguan pencernaan,
Kesibukan pekerjaan, rapat, perjalanan, atau aktivitas lain sering membuat seseorang mengabaikan jadwal makan. Makan siang yang seharusnya dilakukan sekitar tengah hari bisa tertunda hingga sore, sementara makan malam juga terkadang baru dilakukan larut malam.
Padahal, menjaga waktu makan tetap konsisten dapat membantu tubuh mempertahankan pola kerja pencernaan yang lebih teratur. Spesialis gizi klinik dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa lambung secara alami memproduksi asam mengikuti ritme dan kebiasaan waktu makan seseorang.
Asam Lambung Tetap Diproduksi Saat Waktu Makan Tiba
Menurut dr. Yaze, ketika seseorang sudah terbiasa makan pada waktu tertentu, tubuh akan menyesuaikan diri dengan kebiasaan tersebut. Ketika waktu makan tiba tetapi makanan belum masuk, produksi asam lambung tetap dapat berlangsung.
Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa makan siang pukul 12.00 kemudian baru makan pukul 15.00. Pada sekitar pukul 12.00, tubuh sudah bersiap melakukan proses pencernaan sehingga asam lambung dapat diproduksi meskipun makanan belum masuk.
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian orang merasakan perut perih atau tidak nyaman. Terlebih jika keterlambatan makan terjadi berulang kali.
Orang yang memiliki gastritis maupun GERD perlu memberikan perhatian lebih terhadap pola makan. Menurut dr. Yaze, keteraturan waktu makan penting untuk membantu mencegah munculnya keluhan pencernaan pada kelompok tersebut.
Namun, bukan berarti setiap orang yang terlambat makan pasti mengalami kerusakan pada dinding lambung. Respons tubuh dapat berbeda-beda dan rasa perih setelah terlambat makan juga tidak otomatis berarti asam lambung telah “menggerus” lambung.
Yang perlu diperhatikan adalah munculnya keluhan yang berulang, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berapa Lama Boleh Terlambat Makan?
Dr. Yaze menjelaskan adanya toleransi terhadap pergeseran waktu makan. Keterlambatan sekitar 30 menit masih dianggap relatif aman dan biasanya tidak menimbulkan ketidaknyamanan yang berarti pada sebagian orang.
Sementara itu, keterlambatan hingga sekitar satu jam masih dapat ditoleransi, meskipun sebagian orang mulai merasakan lapar, sulit berkonsentrasi, atau perut terasa tidak nyaman.
Jika keterlambatan berlangsung lebih dari satu jam, keluhan seperti perut perih, kembung, dan rasa tidak nyaman dapat semakin mungkin dirasakan, terutama pada orang yang sensitif terhadap perubahan pola makan.
Karena itu, menjaga jadwal makan bukan berarti seseorang harus makan tepat pada menit yang sama setiap hari. Yang lebih penting adalah membangun pola yang relatif teratur dan tidak membiarkan jeda makan berlangsung terlalu panjang secara terus-menerus.
Bagi pekerja yang memiliki jadwal padat, membawa camilan dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mengantisipasi keterlambatan makan. Dr. Yaze menyarankan makanan ringan seperti pisang atau jeruk sebagai bekal ketika seseorang memperkirakan akan menghadapi aktivitas yang membuat jadwal makan bergeser.
Meski demikian, camilan sebaiknya tidak selalu dijadikan pengganti makanan utama. Fungsinya lebih sebagai solusi sementara ketika seseorang belum dapat memperoleh makanan utama pada waktunya.
Selain menjaga jadwal, kualitas makanan juga tetap penting. Makan tepat waktu tetapi terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, atau makanan ultra-proses tentu tidak otomatis membuat pola makan menjadi sehat.
Pola makan yang baik pada dasarnya perlu memperhatikan waktu, jenis makanan, porsi, dan kebutuhan tubuh. Keteraturan makan dapat membantu seseorang menghindari rasa lapar berlebihan yang kemudian membuatnya makan dalam jumlah terlalu banyak.
Jika seseorang sering mengalami nyeri ulu hati, rasa terbakar di dada, mual, muntah, sulit menelan, atau keluhan pencernaan lainnya, sebaiknya tidak hanya mengandalkan perubahan jadwal makan. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Pada akhirnya, sesekali terlambat makan karena kondisi tertentu bukan berarti langsung menyebabkan masalah serius. Namun, jika terlambat makan menjadi kebiasaan, tubuh dapat lebih mudah mengalami rasa lapar berlebihan dan sebagian orang dapat mengalami keluhan pencernaan.
Karena itu, bagi masyarakat dengan aktivitas padat, mengatur jadwal makan dan menyediakan camilan sehat dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga pola makan tetap teratur. Bukan soal harus makan tepat pada jam yang sama setiap hari, melainkan menghindari kebiasaan menunda makan terlalu lama





