HealthcareUpdate News

Gangguan Penglihatan Anak Sekolah Makin Disorot, Gadget Jadi Salah Satu Pemicu?

Sebanyak 3.099 anak di Magetan mengalami gangguan penglihatan. Gadget bisa menjadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya penyebab.

emuan 3.099 anak mengalami gangguan penglihatan di Kabupaten Magetan menunjukkan persoalan kesehatan mata pada anak usia sekolah masih perlu mendapat perhatian serius, terutama di tengah kebiasaan menatap layar yang semakin sulit dipisahkan dari aktivitas belajar dan hiburan.

Data tersebut berasal dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 di Kabupaten Magetan. Dari sekitar 57.000 anak yang telah menjalani pemeriksaan, sebanyak 3.099 anak ditemukan mengalami gangguan penglihatan. Mayoritas mengalami gangguan refraksi seperti mata minus dan silinder.

Temuan di Magetan menjadi gambaran penting mengenai perlunya pemeriksaan mata secara berkala pada anak sekolah. Gangguan penglihatan yang tidak diketahui sejak dini dapat memengaruhi kemampuan anak mengikuti proses belajar di sekolah.

Pemerintah juga menaruh perhatian terhadap persoalan tersebut. Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 3,6 juta anak Indonesia masih mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi dengan kacamata. Sepanjang 2025, skrining kesehatan mata melalui berbagai layanan juga telah menjangkau sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun.

Apakah Gangguan Penglihatan Anak Makin Meningkat?

Sulit menyimpulkan bahwa seluruh gangguan penglihatan anak di Indonesia sedang meningkat hanya berdasarkan satu daerah atau satu hasil skrining. Jumlah temuan juga dapat dipengaruhi semakin luasnya pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pemerintah.

Namun, secara global, peningkatan kasus rabun jauh atau miopia pada anak memang menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Tinjauan sistematis yang diterbitkan WHO mencatat meningkatnya miopia pada anak usia sekolah dan mengaitkannya antara lain dengan aktivitas melihat dekat dalam waktu lama, seperti membaca serta menggunakan komputer atau smartphone. Faktor genetik dan lingkungan, termasuk kurangnya waktu berada di luar ruangan, juga berperan.

Read More  Internet 5G Segera Hadir di Kereta, KAI Uji Coba Mulai Musim Liburan 2026

Usia anak juga berpengaruh. Analisis WHO tersebut menemukan prevalensi miopia lebih tinggi pada kelompok usia 11-17 tahun dibandingkan anak usia 5-10 tahun. Kondisi ini menunjukkan gangguan penglihatan tertentu dapat semakin banyak ditemukan seiring bertambahnya usia anak.

Karena itu, temuan ribuan anak di Magetan sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai persoalan jumlah kasus, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya deteksi dini kesehatan mata.

Gadget Bukan Satu-satunya Penyebab

Penggunaan gadget memang dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Anak yang terlalu lama menatap layar dapat mengalami keluhan seperti mata lelah, kering, hingga pandangan kabur. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat memicu gangguan pada mata anak.

Masalahnya bukan semata-mata keberadaan gadget, melainkan bagaimana perangkat tersebut digunakan. Durasi menatap layar yang panjang, aktivitas melihat dekat dalam waktu lama, jarak pandang yang terlalu dekat, serta berkurangnya aktivitas di luar ruangan dapat menjadi bagian dari pola yang meningkatkan risiko masalah penglihatan.

Kementerian Kesehatan melalui layanan edukasinya juga mengingatkan bahwa terlalu lama menatap layar dapat menyebabkan digital eye strain, dengan keluhan mata kering, tegang, dan pandangan buram.

Di sisi lain, tidak tepat jika semua kasus mata minus atau gangguan penglihatan pada anak langsung disebabkan oleh gadget. Faktor keturunan, perkembangan mata, aktivitas membaca dan belajar, serta lingkungan juga dapat berperan.

Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah mengatur kebiasaan anak secara keseluruhan. Waktu menggunakan gadget perlu dibatasi, anak perlu mendapatkan waktu yang cukup untuk beraktivitas di luar ruangan, dan jarak pandang saat menggunakan perangkat maupun membaca perlu diperhatikan.

Pemeriksaan mata juga penting dilakukan apabila anak mulai kesulitan melihat tulisan di papan tulis, sering menyipitkan mata, mendekatkan buku atau layar ke wajah, mengeluhkan sakit kepala, atau mengalami mata cepat lelah.

Read More  Strategi “Quiet Investing” Jadi Kunci Hadapi Pasar Volatil

Kasus di Magetan memperlihatkan bahwa skrining kesehatan di sekolah memiliki peran penting untuk menemukan gangguan penglihatan yang mungkin sebelumnya tidak diketahui. Dari 3.099 anak yang teridentifikasi mengalami gangguan penglihatan, sebagian masih harus mendapatkan pemeriksaan lanjutan. Dinas Kesehatan Magetan mencatat masih ada 635 anak yang belum menjalani pemeriksaan mata lanjutan setelah rangkaian pemeriksaan yang dilakukan.

Dengan semakin banyaknya aktivitas anak yang melibatkan layar digital, menjaga kesehatan mata tidak cukup hanya dengan mengurangi gadget. Pemeriksaan rutin, kebiasaan melihat yang sehat, aktivitas fisik dan luar ruangan, serta perhatian orang tua dan sekolah perlu berjalan bersama agar gangguan penglihatan dapat ditemukan dan ditangani sedini mungkin.

Back to top button