Scrolling di Instagram, Facebook, dan WhatsApp Bikin Orang Belanja 30 Persen Lebih Banyak
Meta mengungkap konsumen yang menemukan produk di platformnya cenderung membelanjakan uang 30% lebih banyak. Asia Pasifik jadi pasar penting.
Kebiasaan mencari inspirasi belanja melalui media sosial membuat konsumen di Asia Pasifik semakin dekat dengan transaksi, bahkan pengguna yang menemukan produk melalui platform Meta tercatat membelanjakan uang sekitar 30 persen lebih banyak dibandingkan rata-rata konsumen.
Temuan tersebut disampaikan Meta dalam acara Virtual Briefing APAC Meta Business Updates 2026, Kamis (13/8/2026). Meta menyebut perilaku belanja di Asia Pasifik mengalami perubahan seiring semakin menyatunya konten media sosial, rekomendasi kreator, iklan, dan fitur belanja dalam satu ekosistem digital.
Vice President Meta Asia Pacific Ben Joe mengatakan terdapat sekitar 3,6 miliar orang yang menggunakan aplikasi Meta setiap hari. Skala pengguna yang sangat besar tersebut membuat Facebook, Instagram, dan WhatsApp tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan, tetapi juga menjadi tempat konsumen menemukan produk hingga mengambil keputusan pembelian.
“Alih-alih berteriak di tengah keramaian dengan harapan ada yang mendengarkan, kita justru membisikkan hal yang tepat kepada orang yang tepat pada saat yang tepat,” ujar Joe dalam acara tersebut.
Media Sosial Jadi Tempat Mencari Inspirasi Belanja
Perubahan perilaku konsumen terlihat semakin jelas di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan studi belanja liburan yang dilakukan Meta bersama Ipsos, 50 persen konsumen Asia Pasifik berbelanja secara online melalui media sosial, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 37 persen.
Media sosial juga semakin berperan sebagai sumber inspirasi sebelum seseorang menentukan barang yang ingin dibeli.
Konsumen dapat menemukan produk ketika sedang melihat Reels, membaca unggahan, mengikuti konten kreator, atau sekadar menggulir linimasa. Dari sana, mereka dapat langsung melihat produk, mencari informasi tambahan, kemudian melanjutkan ke proses pembelian.
Inilah yang membuat aktivitas scrolling tidak lagi sekadar kegiatan menghabiskan waktu. Konten yang dikonsumsi pengguna dapat secara langsung memengaruhi keputusan belanja.
Konsumen Asia Pasifik Lebih Aktif Saat Musim Belanja
Karakter belanja masyarakat Asia Pasifik juga terlihat dari tingginya partisipasi pada momen promosi tertentu.
Data yang dipaparkan Meta menunjukkan 69 persen konsumen Asia Pasifik berbelanja pada momen 12.12, lebih tinggi dibandingkan konsumen yang berbelanja saat Black Friday, yakni 49 persen. Konsumen di kawasan ini juga relatif aktif berbelanja pada momen Tahun Baru.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kalender promosi memiliki pengaruh besar terhadap perilaku konsumen di kawasan Asia Pasifik.
Bagi pelaku usaha, momentum seperti 12.12 menjadi kesempatan untuk menjangkau konsumen ketika mereka memang sedang berada dalam kondisi siap berbelanja. Media sosial kemudian menjadi salah satu jalur penting untuk membawa produk langsung ke hadapan calon pembeli.
AI Membuat Iklan Lebih Tepat Sasaran
Pertumbuhan perdagangan melalui media sosial tidak terlepas dari penggunaan kecerdasan buatan atau AI.
Meta mengatakan teknologi AI digunakan untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam memahami minat pengguna dan menampilkan iklan yang dianggap lebih relevan. Sistem tersebut memanfaatkan berbagai sinyal mengenai aktivitas pengguna untuk membantu menentukan iklan dan konten komersial yang kemungkinan paling menarik bagi mereka.
Meta sebelumnya juga mengungkap bahwa peningkatan sistem rekomendasi iklan berbasis AI telah mendorong kenaikan klik iklan di Facebook dan peningkatan konversi di Instagram.
Bagi konsumen, proses tersebut membuat iklan yang muncul semakin dekat dengan minat mereka. Namun dari sisi bisnis, kemampuan tersebut juga memberikan peluang untuk menampilkan produk kepada calon pembeli yang lebih potensial.
Kreator Makin Berpengaruh
Selain algoritma dan iklan, kreator konten menjadi bagian penting dalam perubahan perilaku belanja di Asia Pasifik.
Meta menyebut konsumen di kawasan ini lebih mempercayai ulasan dan rekomendasi produk dari kreator dibandingkan konsumen di kawasan lain. Tingkat kepercayaan tersebut disebut enam poin lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Rekomendasi dari kreator memiliki karakter berbeda dibandingkan iklan konvensional. Konsumen dapat melihat seseorang menggunakan sebuah produk, mendengar pengalaman penggunaannya, lalu mempertimbangkan produk tersebut berdasarkan pengalaman yang disampaikan.
Pola ini membuat batas antara konten hiburan, rekomendasi, dan promosi semakin tipis.
Dalam setahun terakhir, lebih dari 10 juta kreator di Asia Pasifik disebut telah menghubungkan akun mereka dengan program affiliate. Meta juga menyebut para kreator tersebut memperoleh komisi lebih dari US$24 juta dalam satu bulan terakhir dari postingan mereka.
Angka US$24 juta setara dengan sekitar Rp400 miliar, tergantung nilai tukar, bukan ratusan triliun rupiah seperti angka konversi yang tertulis dalam artikel sumber.
Belanja Tak Lagi Harus Keluar dari Aplikasi
Perubahan terbesar dalam perdagangan berbasis media sosial adalah semakin pendeknya perjalanan dari melihat produk hingga membeli.
Ketika pengguna menemukan sebuah produk dalam Reels atau unggahan, mereka dapat mengetuk tanda produk untuk melihat informasi yang berkaitan dengan barang tersebut. Produk kemudian menjadi bagian dari pengalaman konten sehingga konsumen tidak perlu melewati terlalu banyak tahapan untuk melanjutkan pencarian.
Meta juga tengah memperluas penggunaan Meta Business Agent, asisten berbasis AI yang dirancang untuk membantu bisnis melayani pelanggan sepanjang waktu.
Melalui layanan tersebut, konsumen dapat menanyakan informasi produk, pilihan warna, ketersediaan barang, hingga pertanyaan lainnya secara langsung kepada bisnis. Saat ini kemampuan tersebut telah tersedia di WhatsApp dan sedang dipersiapkan untuk Instagram.
Kehadiran AI membuat percakapan antara konsumen dan penjual berpotensi berlangsung lebih cepat. Konsumen tidak harus menunggu admin membalas pesan secara manual, sementara bisnis dapat melayani pertanyaan pelanggan dalam jumlah lebih besar.
Peluang Besar bagi UMKM
Perubahan perilaku konsumen tersebut juga membuka peluang bagi usaha kecil dan menengah.
Meta mengungkapkan lebih dari 9 juta usaha kecil kini menggunakan perangkat kreatif berbasis AI miliknya. Teknologi tersebut membantu bisnis membuat materi promosi dan menjangkau calon pelanggan di tengah persaingan yang semakin padat.
Bagi UMKM, media sosial dapat berfungsi sekaligus sebagai etalase, media promosi, saluran komunikasi, dan pintu masuk transaksi.
Pelaku usaha tidak harus selalu mengandalkan toko fisik atau situs web sendiri untuk memperkenalkan produknya. Konten yang menarik dapat menjadi titik awal perjalanan konsumen hingga akhirnya melakukan pembelian.
Namun, kemudahan tersebut juga membuat persaingan mendapatkan perhatian konsumen semakin ketat.
Konsumen Perlu Lebih Waspada
Di balik meningkatnya kemudahan belanja melalui media sosial, konsumen juga perlu lebih berhati-hati.
Algoritma yang semakin pintar dapat membuat produk yang sesuai dengan minat pengguna terus muncul di linimasa. Ketika rekomendasi tersebut datang berulang kali, dorongan untuk membeli dapat menjadi semakin kuat.
Konsumen sebaiknya tetap membedakan antara kebutuhan dan keinginan, terutama ketika produk ditemukan secara spontan saat scrolling.
Kemudahan transaksi memang menjadi salah satu keunggulan perdagangan berbasis media sosial. Namun, semakin pendek jarak antara melihat produk dan membeli, semakin penting pula kemampuan konsumen untuk mengambil keputusan secara rasional.
Pada akhirnya, temuan Meta menunjukkan bahwa media sosial telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai tempat berkomunikasi. Instagram, Facebook, dan WhatsApp kini menjadi bagian dari perjalanan konsumen, mulai dari mencari inspirasi, menemukan produk, memperoleh rekomendasi, berkomunikasi dengan penjual, hingga melakukan pembelian.
Bagi bisnis, perubahan tersebut menghadirkan peluang besar. Bagi konsumen, perubahan ini menjadi pengingat bahwa satu kali scrolling dapat dengan cepat berubah menjadi satu transaksi.





