Anak Habiskan 5–7 Jam Sehari dengan Ponsel, Ini Dampak dan Durasi Idealnya
Kebiasaan anak menggunakan ponsel selama 5–7 jam sehari perlu menjadi perhatian karena dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikologis, interaksi sosial, pendidikan, serta meningkatkan risiko terpapar konten berbahaya.
Kebiasaan anak menggunakan ponsel selama 5–7 jam sehari perlu menjadi perhatian karena dapat mengganggu kesehatan, perkembangan psikologis, interaksi sosial, pendidikan, hingga meningkatkan risiko terpapar konten berbahaya.
Ponsel kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Perangkat ini dapat digunakan untuk belajar, berkomunikasi, mencari informasi, bermain gim, hingga menikmati hiburan. Namun, penggunaan ponsel dalam waktu terlalu lama dapat menjadi persoalan ketika mulai menggeser aktivitas lain yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap adanya anak yang menghabiskan waktu 5–7 jam sehari menggunakan ponsel. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius karena penggunaan perangkat secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Komisioner KPAI Kawiyan mengatakan, penggunaan ponsel selama 5–7 jam sehari dapat berdampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis anak, mengurangi interaksi sosial, serta meningkatkan risiko anak terpapar berbagai konten berbahaya.
“Penggunaan ponsel secara berlebihan dapat menggeser keseimbangan kebutuhan tumbuh kembang anak,” kata Kawiyan.
Dampak terhadap kesehatan fisik
Dari sisi fisik, terlalu lama menggunakan ponsel dapat membuat anak semakin sedikit melakukan aktivitas fisik. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bermain, berolahraga atau melakukan kegiatan aktif justru dihabiskan di depan layar.
Penggunaan ponsel secara berlebihan juga dapat berkaitan dengan kurang tidur, kelelahan, gangguan pola makan, serta masalah kesehatan akibat terlalu lama berada di depan layar.
Karena itu, penggunaan ponsel perlu ditempatkan dalam keseimbangan dengan kebutuhan anak untuk bergerak, beristirahat dan melakukan aktivitas lain di luar layar.
Dampak psikologis juga perlu diperhatikan
Persoalan penggunaan ponsel tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Kawiyan juga menyoroti dampaknya terhadap kondisi psikologis anak.
Penggunaan ponsel yang tidak terkendali dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, anak menjadi lebih mudah marah, kesulitan mengendalikan emosi, hingga munculnya ketergantungan terhadap stimulasi digital.
Kondisi tersebut semakin perlu diperhatikan apabila sebagian besar waktu anak dihabiskan untuk aktivitas yang membuatnya terus mencari rangsangan baru, seperti bermain gim dan menggunakan media sosial.
Berapa lama anak idealnya menggunakan ponsel?
Lantas, berapa lama sebenarnya anak boleh menggunakan ponsel dalam sehari?
Tidak ada satu batas waktu yang berlaku sama untuk semua anak karena usia, kebutuhan dan aktivitas mereka berbeda. Durasi penggunaan layar perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dan tidak boleh sampai mengganggu kebutuhan dasar lainnya.
Untuk anak usia dini, batas waktu penggunaan layar perlu jauh lebih ketat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan penggunaan layar untuk bayi dan anak usia 1 tahun, sedangkan anak usia 2–4 tahun sebaiknya tidak menghabiskan waktu lebih dari satu jam sehari untuk aktivitas layar.
Untuk anak usia sekolah, orang tua dapat membuat batasan yang lebih fleksibel dengan memastikan penggunaan ponsel tidak mengganggu tidur, belajar, aktivitas fisik dan interaksi sosial.
Dengan demikian, penggunaan ponsel selama 5–7 jam sehari, terutama jika sebagian besar digunakan untuk hiburan, bermain gim atau media sosial, sudah patut dievaluasi.
Orang tua juga tidak cukup hanya menghitung jumlah jam. Hal yang tidak kalah penting adalah melihat untuk apa ponsel tersebut digunakan.
Waktu layar untuk mengerjakan tugas sekolah tentu berbeda dengan waktu yang dihabiskan untuk bermain gim atau menonton video tanpa jeda.
Interaksi sosial anak ikut terdampak
Kawiyan juga menyoroti berkurangnya interaksi langsung akibat anak terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar.
Padahal, kemampuan komunikasi, empati, kerja sama dan penyelesaian konflik tidak hanya dibangun melalui dunia digital, tetapi juga melalui interaksi nyata dengan keluarga dan lingkungan.
“Anak harus tetap membangun kemampuan komunikasi tatap muka, empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik melalui interaksi nyata,” ujar Kawiyan.
KPAI menemukan contoh mengenai persoalan tersebut pada 2025. Saat itu, Kawiyan bertemu seorang siswa SMP di Semarang yang mengalami kecanduan gim online.
Siswa tersebut terlalu banyak menghabiskan waktu bersama ponsel sehingga jarang berinteraksi dengan teman maupun keluarganya. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kemampuan komunikasi dan emosinya.
“Karena terlalu banyak waktunya bersama ponsel, ia tidak berinteraksi dengan teman-teman, bahkan dengan keluarga juga sangat jarang berkomunikasi. Akibatnya, volume suaranya sangat kecil. Ia juga emosinya tidak stabil dan mudah marah,” kata Kawiyan.
Konsentrasi belajar dapat terganggu
Penggunaan ponsel yang tidak terkendali juga dapat berpengaruh terhadap pendidikan anak.
Kawiyan mengatakan, gim dan media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Jika tidak dikendalikan, waktu belajar anak dapat tersisihkan dan konsentrasinya terganggu.
Karena itu, orang tua perlu membuat batasan agar penggunaan ponsel tidak mengambil waktu yang seharusnya digunakan anak untuk belajar.
Waktu belajar juga dapat ditetapkan sebagai periode bebas ponsel, kecuali perangkat tersebut memang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
Risiko terpapar konten berbahaya
Semakin lama anak berada di ruang digital, semakin besar pula peluang mereka menghadapi berbagai risiko.
Kawiyan menyebut sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari konten kekerasan, pornografi, perjudian, perundungan, penipuan, eksploitasi, grooming hingga interaksi dengan orang yang tidak dikenal.
Anak juga memiliki kecenderungan meniru perilaku yang mereka lihat melalui perangkat digital.
“Jika ia sering melihat adegan kekerasan, ia berpotensi meniru adegan-adegan kekerasan tersebut dan berpotensi menjadi pelaku kekerasan,” ujar Kawiyan.
Karena itu, pengawasan orang tua tidak cukup hanya dengan menetapkan batas waktu penggunaan ponsel.
Orang tua juga perlu mengetahui aplikasi yang digunakan anak, jenis konten yang dikonsumsi serta dengan siapa anak berinteraksi di dunia digital.
Penggunaan ponsel bukan sekadar masalah disiplin
KPAI menilai persoalan penggunaan ponsel pada anak tidak seharusnya hanya dilihat sebagai masalah kedisiplinan.
Orang tua memang memiliki peran penting dalam membuat aturan penggunaan perangkat, tetapi perlindungan anak di ruang digital membutuhkan perhatian yang lebih luas.
“Persoalan penggunaan ponsel tidak boleh dilihat hanya sebagai persoalan disiplin anak, tetapi juga sebagai persoalan ekosistem perlindungan anak,” ujar Kawiyan.
Artinya, anak perlu memiliki lingkungan yang memberikan cukup banyak pilihan aktivitas selain menggunakan ponsel.
Anak tetap membutuhkan waktu untuk bermain secara fisik, berolahraga, membaca, berbicara dengan keluarga, berinteraksi dengan teman, beristirahat dan melakukan kegiatan lain yang mendukung perkembangannya.
Orang tua perlu memberi contoh
Membatasi penggunaan ponsel bukan berarti melarang anak menggunakan teknologi. Anak tetap perlu mengenal dan memanfaatkan teknologi karena perangkat digital juga memiliki manfaat untuk pendidikan dan komunikasi.
Yang perlu dibangun adalah kebiasaan menggunakan ponsel secara sehat dan seimbang.
Orang tua dapat menetapkan aturan sederhana, misalnya tidak menggunakan ponsel saat makan, ketika sedang berbicara dengan anggota keluarga, saat belajar dan menjelang tidur.
Orang tua juga perlu memberikan contoh. Anak akan lebih mudah memahami aturan apabila melihat orang tuanya juga mampu meletakkan ponsel ketika sedang berkumpul bersama keluarga.
Pada akhirnya, persoalan penggunaan ponsel pada anak bukan hanya soal berapa jam mereka boleh menggunakan perangkat, tetapi apakah penggunaan tersebut masih memberikan ruang yang cukup untuk tidur, bergerak, belajar, bermain, berinteraksi dan berkembang secara sehat.
Jika anak sudah menghabiskan 5–7 jam sehari menggunakan ponsel, kondisi tersebut menjadi sinyal bagi keluarga untuk mengevaluasi kebiasaan penggunaan perangkat dan secara bertahap mengembalikan keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.





