Kabut Asap Karhutla Mengancam Kesehatan, Ini yang Harus Dilakukan Saat Udara Memburuk
Kabut asap pekat akibat karhutla yang membuat jarak pandang di Banjarbaru hanya sekitar 10 meter menjadi peringatan bahwa paparan asap tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan masalah kesehatan lainnya, terutama ketika konsentrasi asap di udara semakin pekat.
Kondisi tersebut kembali terjadi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Rabu (19/8/2026). Kabut asap pekat menyelimuti sejumlah wilayah kota hingga membuat jarak pandang hanya sekitar 10 meter.
Kondisi itu terjadi antara lain di kawasan Pengayuan, Jalan Jurusan Pelaihari, dan Liang Anggang. Kabut asap yang sangat tebal membuat pengguna jalan harus meningkatkan kewaspadaan karena jarak pandang yang terbatas. Warga juga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan asap.
Data Pusdalops BPBD Kota Banjarbaru yang dikutip KompasTV menyebut luas lahan yang terbakar di Kota Banjarbaru telah mencapai sekitar 664 hektare dari 114 kejadian. Kecamatan Landasan Ulin tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak berhenti pada api yang membakar lahan. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke wilayah permukiman dan perkotaan sehingga masyarakat yang berada cukup jauh dari titik kebakaran tetap dapat terdampak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel sangat kecil. Salah satu yang menjadi perhatian adalah partikulat halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sakit kepala, mengi, hingga sesak napas.
Pada orang yang memiliki penyakit sebelumnya, dampaknya bisa lebih serius. Paparan asap dapat memperburuk asma, penyakit paru kronis, maupun penyakit jantung dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan seseorang membutuhkan perawatan medis atau dirawat di rumah sakit.
Anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kabut asap. Paru-paru anak masih berkembang sehingga mereka lebih sensitif terhadap polusi udara, sementara lansia lebih berisiko karena lebih banyak yang memiliki penyakit jantung atau paru.
Karena itu, ketika kabut asap mulai terlihat pekat atau kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. WHO menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan sebanyak mungkin dan menutup pintu serta jendela selama kondisi asap tinggi, kecuali terdapat instruksi dari pihak berwenang untuk melakukan evakuasi.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi mengenai kualitas udara dan arahan dari pemerintah daerah, BPBD maupun instansi terkait. Jika kondisi semakin buruk, jangan mengabaikan imbauan untuk berpindah ke lokasi yang udaranya lebih bersih atau melakukan evakuasi.
Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikel halus menjadi penting. WHO merekomendasikan masker yang terpasang dengan baik seperti N95 atau FFP2 ketika seseorang harus berada di luar ruangan dalam kondisi asap. Masker bedah biasa atau kain tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel halus dari asap kebakaran.
Aktivitas fisik di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika kabut asap pekat. Berolahraga atau melakukan pekerjaan fisik berat di luar ruangan membuat seseorang bernapas lebih banyak sehingga jumlah polutan yang masuk ke tubuh dapat meningkat.
Kondisi di dalam rumah pun perlu diperhatikan. Ketika udara di luar dipenuhi asap, pintu dan jendela sebaiknya tetap tertutup. Jika tersedia pendingin ruangan, gunakan mode sirkulasi ulang agar udara dari luar tidak terus masuk. Penggunaan alat penyaring udara dengan filter yang sesuai juga dapat membantu mengurangi partikel polutan di dalam ruangan.
Masyarakat juga perlu menghindari sumber polusi tambahan di dalam rumah selama kabut asap terjadi. Merokok, membakar sampah, menggunakan lilin, memasak dengan cara yang menghasilkan banyak asap, atau menggunakan produk aerosol dapat memperburuk kualitas udara di dalam ruangan.
Bagi pengguna kendaraan, kondisi kabut asap dengan jarak pandang sangat pendek juga menjadi ancaman keselamatan. Dalam kondisi seperti yang terjadi di Banjarbaru, ketika jarak pandang hanya sekitar 10 meter, perjalanan yang tidak mendesak sebaiknya ditunda. Jika harus berkendara, pengemudi perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menyalakan lampu kendaraan dan memastikan kondisi kaca serta sistem ventilasi kendaraan mendukung visibilitas. WHO juga menyarankan penggunaan lampu kendaraan pada siang hari dan mengatur sistem ventilasi kendaraan agar menggunakan sirkulasi udara dalam ketika asap tinggi.
Gejala akibat paparan asap juga tidak boleh dianggap sepele. Batuk, mata perih, sakit kepala, tenggorokan teriritasi, sesak napas, mengi, nyeri dada atau jantung berdebar dapat menjadi tanda tubuh terdampak polusi asap. WHO menyarankan masyarakat memperhatikan gejala tersebut dan mencari bantuan medis apabila kondisi memburuk atau muncul keluhan yang serius.
Bagi penderita asma, penyakit paru, penyakit jantung atau kondisi kronis lainnya, obat yang biasa digunakan sebaiknya tetap tersedia dan rencana pengobatan yang diberikan dokter tetap dijalankan. Jika gejala penyakit semakin berat setelah terpapar asap, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Kabut asap karhutla di Banjarbaru menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat dirasakan jauh dari lokasi api. Ketika jarak pandang turun hingga hanya sekitar 10 meter, masyarakat bukan hanya perlu meningkatkan kewaspadaan saat berkendara, tetapi juga mengurangi paparan asap demi melindungi kesehatan.
Yang paling penting, masyarakat tidak perlu menunggu munculnya keluhan kesehatan untuk mulai melindungi diri. Ketika asap mulai pekat, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat, menjaga udara dalam rumah tetap bersih dan mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko.





