Ekonom: Nasib PT Danantara Sumberdaya Indonesia Ditentukan Komunikasi dan Transparansi
Keberhasilan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai sangat bergantung pada kemampuan pemerintah membangun komunikasi publik dan menunjukkan kinerja awal yang positif
Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai menjadi sorotan publik setelah pemerintah memperkenalkan lembaga baru tersebut untuk merespons persoalan lama di sektor ekonomi, seperti praktik under-invoicing dan transfer pricing yang selama ini dinilai merugikan negara.
Ekonom Senior Dradjad Hari Wibowo menilai munculnya resistensi terhadap PT DSI merupakan hal yang wajar, mengingat lembaga tersebut menyentuh persoalan sensitif yang selama ini berkaitan dengan tata kelola bisnis dan penerimaan negara.
“Memang ini baru diumumkan sehingga menjadi tugas Pak Rosan dan tim Danantara untuk melakukan komunikasi sebaik mungkin dalam menjelaskan gagasan ini kepada publik,” kata Dradjad dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Menurut ekonom lulusan Universitas Queensland tersebut, sebagian penolakan kemungkinan datang dari oknum yang selama ini diduga terlibat dalam praktik under-invoicing maupun transfer pricing. Namun di sisi lain, ada pula pelaku usaha yang sebenarnya tidak terlibat, tetapi merasa khawatir kebijakan baru ini berpotensi mengganggu iklim usaha dan kepastian bisnis.
Karena itu, Dradjad menilai kualitas komunikasi pemerintah menjadi faktor sangat penting dalam menentukan arah penerimaan publik terhadap PT DSI.
Kinerja Awal Jadi Penentu
Selain komunikasi, Dradjad menekankan bahwa kinerja awal PT DSI akan menjadi ujian utama dalam membangun kepercayaan pasar dan dunia usaha.
Ia mengatakan, apabila lembaga tersebut mampu menunjukkan hasil positif sejak tahap awal, maka kekhawatiran publik perlahan dapat berkurang.
“Kalau komunikasinya baik dan kinerja awalnya menunjukkan hasil positif, saya rasa kekhawatiran itu pelan-pelan bisa berkurang,” ujar mantan anggota DPR RI periode 2004–2009 tersebut.
Dradjad juga menyoroti pentingnya aspek tata kelola atau governance serta transparansi dalam operasional PT DSI. Menurutnya, dua hal tersebut harus dikomunikasikan secara konsisten kepada seluruh pemangku kepentingan agar tidak memunculkan persepsi negatif di masyarakat maupun pelaku usaha.
Ia mengingatkan, lemahnya komunikasi dapat membuat ide yang sebenarnya memiliki tujuan baik justru dipersepsikan berbeda oleh publik.
“Kalau komunikasi lemah, ide yang sebenarnya baik bisa dipersepsikan menyimpang dari tujuan awalnya. Karena itu komunikasi akan memegang peranan yang sangat penting,” katanya.
Pengamat menilai keberadaan PT DSI akan menjadi ujian baru bagi pemerintah dalam membangun lembaga ekonomi yang tidak hanya kuat secara regulasi, tetapi juga dipercaya oleh publik dan pasar.





