Konten demi Viral Jangan Sampai Menggadaikan Nyawa
Fenomena berburu konten media sosial di lokasi berbahaya semakin mengkhawatirkan, bahkan mulai memakan korban jiwa.
Keinginan mendapatkan konten viral di media sosial kini sering membuat banyak orang mengabaikan keselamatan. Demi foto, video, atau unggahan yang menarik perhatian, tidak sedikit yang rela mengambil risiko ekstrem, mulai dari berdiri di tepi jurang, menerobos area terlarang, hingga masuk ke zona bencana yang berbahaya.
Fenomena ini kembali menjadi sorotan setelah tragedi erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara yang menewaskan sejumlah pendaki. Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengingatkan masyarakat agar tidak menukar nyawa demi konten media sosial di zona bahaya gunung api.
Menurut IABI, tindakan menerobos larangan pendakian demi mengejar adrenalin atau konten media sosial merupakan kenekatan fatal. Peringatan otoritas sebenarnya bukan sekadar aturan administratif, tetapi batas keselamatan yang harus dipatuhi.
Kasus Gunung Dukono menjadi gambaran bagaimana budaya âkonten dulu, keselamatan belakanganâ mulai menjadi masalah serius. Apalagi media sosial saat ini mendorong orang untuk terus mencari sesuatu yang ekstrem, unik, dan sensasional demi mendapatkan perhatian publik.
Tidak sedikit pengguna media sosial yang rela mengambil gambar di lokasi berbahaya demi jumlah view, likes, atau followers. Dalam banyak kasus, batas antara keberanian dan tindakan nekat menjadi semakin tipis.
Padahal, lokasi seperti gunung api aktif, tebing, jalur ekstrem, hingga kawasan bencana memiliki risiko yang tidak bisa diprediksi. Alam tidak memberi tanda sebelum bahaya datang.
IABI bahkan menegaskan bahwa sejarah telah menunjukkan banyak tragedi besar akibat letusan gunung api, mulai dari Gunung Merapi hingga berbagai erupsi di luar negeri yang memakan banyak korban jiwa.
Fenomena berburu konten berbahaya sebenarnya tidak hanya terjadi di gunung api. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kecelakaan terjadi akibat orang terlalu fokus membuat konten dibanding memperhatikan keselamatan.
Mulai dari selfie di tepi gedung tinggi, membuat video di jalur kereta, aksi ekstrem di jalan raya, hingga mendekati ombak besar demi mendapatkan video dramatis.
Media sosial memang memberi ruang bagi siapa saja untuk menjadi kreator konten. Namun, semakin besar keinginan tampil viral, semakin besar pula risiko orang mengabaikan batas aman.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai dorongan validasi sosial digital, ketika seseorang merasa perlu mendapatkan pengakuan publik melalui konten yang dianggap menarik atau ekstrem.
Masalahnya, algoritma media sosial sering kali lebih cepat mempopulerkan konten sensasional dibanding konten biasa. Akibatnya, banyak orang terdorong melakukan hal yang semakin berisiko demi mendapatkan perhatian.
Yang sering terlupakan, ketika kecelakaan terjadi, bukan hanya korban yang terdampak. Tim SAR, relawan, hingga petugas penyelamat juga harus mempertaruhkan keselamatan mereka untuk melakukan evakuasi di medan berbahaya.
Dalam kasus Gunung Dukono, proses evakuasi korban bahkan terkendala erupsi susulan dan kondisi cuaca ekstrem. Karena itu, para ahli mengingatkan bahwa keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama dibanding mengejar popularitas sesaat di media sosial.
Konten viral mungkin hanya bertahan beberapa hari di internet. Namun risiko kehilangan nyawa atau cedera serius dapat berdampak seumur hidup. Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi informasi, kreativitas, dan pengalaman positif, bukan tempat mempertaruhkan keselamatan demi sensasi. Pada akhirnya, tidak ada jumlah views, likes, atau followers yang sebanding dengan nyawa manusia.





