Jobless Growth, Ketika Ekonomi Indonesia Tumbuh tetapi Lapangan Kerja Tak Bertambah
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi semestinya diikuti dengan bertambahnya lapangan pekerjaan, namun fenomena jobless growth menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu berjalan beriringan
Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I-2026, masyarakat justru dihadapkan pada kenyataan bahwa memperoleh pekerjaan yang layak masih menjadi tantangan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, mengapa ekonomi dapat tumbuh cukup tinggi sementara kesempatan kerja tidak meningkat secara signifikan?
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah jobless growth atau pertumbuhan ekonomi tanpa diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja yang sebanding. Dengan kata lain, nilai produksi barang dan jasa meningkat, tetapi tidak mampu menciptakan jumlah pekerjaan baru yang cukup besar bagi masyarakat.
Secara teori, pertumbuhan ekonomi akan mendorong investasi, meningkatkan kapasitas produksi perusahaan, dan membuka lapangan pekerjaan baru. Namun, dalam praktiknya terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja menjadi tidak sejalan.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan struktur ekonomi Indonesia. Saat ini, pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor yang bersifat padat modal, seperti pertambangan, teknologi, dan industri tertentu yang mengandalkan otomatisasi. Sektor-sektor tersebut memang menghasilkan nilai tambah yang besar, tetapi tidak membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak.
Sebaliknya, sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan beberapa industri manufaktur justru menghadapi tekanan cukup besar akibat meningkatnya biaya produksi, melemahnya permintaan global, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis diikuti peningkatan kesempatan kerja.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2026 mencapai 154,91 juta orang atau bertambah sekitar 1,86 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara jumlah penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang. Meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,68 persen, para ekonom menilai kemampuan pertumbuhan ekonomi dalam menciptakan pekerjaan baru mulai mengalami penurunan.
Permasalahan lainnya terletak pada kualitas pekerjaan yang tercipta. Sebagian besar tambahan pekerjaan justru berasal dari sektor informal yang memiliki produktivitas dan tingkat pendapatan relatif lebih rendah dibandingkan sektor formal. Akibatnya, masyarakat memang bekerja, tetapi belum tentu memperoleh penghasilan yang cukup untuk meningkatkan kesejahteraannya secara signifikan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya penggunaan teknologi di berbagai sektor usaha. Digitalisasi dan otomatisasi memungkinkan perusahaan meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah jumlah tenaga kerja secara besar-besaran. Sebuah perusahaan misalnya dapat meningkatkan kapasitas produksinya melalui investasi mesin dan teknologi dibandingkan melakukan perekrutan pekerja baru dalam jumlah besar.
Selain itu, terjadi pula ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja yang tersedia. Dunia usaha membutuhkan pekerja dengan keterampilan digital dan kemampuan teknis tertentu, sementara sebagian tenaga kerja belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan industri.
Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan meskipun aktivitas ekonomi nasional terus meningkat.
Fenomena jobless growth juga memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat. Ketika lapangan kerja formal tidak bertambah secara optimal dan pendapatan pekerja tumbuh terbatas, konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang utama ekonomi nasional berpotensi mengalami tekanan dalam jangka panjang.
Para ekonom menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas dan produktif. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif menjadi penting agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Peningkatan kualitas pendidikan vokasi, pengembangan keterampilan digital, penguatan sektor padat karya, serta pemerataan investasi ke sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja menjadi beberapa langkah yang dinilai penting untuk mengatasi fenomena jobless growth.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), tetapi juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menghadirkan pekerjaan yang layak dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang ideal adalah pertumbuhan yang tidak hanya menghasilkan angka, melainkan juga membuka peluang yang lebih besar bagi setiap pencari kerja di Indonesia.





