Safe and SecureUpdate News

Kabut Asap Karhutla Bikin Jarak Pandang Menurun, Begini Cara Aman Berkendara agar Tak Celaka

Peristiwa kecelakaan dua truk di Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, saat kabut asap tebal akibat karhutla menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kewaspadaan ketika berkendara dalam jarak pandang terbatas.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga dapat menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan karena jarak pandang yang menurun drastis.

Risiko tersebut kembali terlihat dalam kecelakaan di Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (19/8/2026). Sebuah truk pengangkut sepeda motor mengalami kecelakaan di tengah kondisi kabut asap pekat. Puluhan sepeda motor yang diangkut ikut terdampak, sementara pengemudi truk mengalami luka dan mendapat perawatan. Polisi masih mendalami penyebab kecelakaan dan belum memastikan kabut asap sebagai satu-satunya faktor penyebab.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa berkendara dalam kondisi kabut asap membutuhkan kewaspadaan jauh lebih tinggi. Ketika asap menutupi jalan, pengemudi tidak hanya kesulitan melihat kendaraan di depan, tetapi juga dapat terlambat mengenali kendaraan dari arah berlawanan, rambu, marka jalan, maupun hambatan yang muncul secara tiba-tiba.

Kabut asap juga dapat membuat pengemudi salah memperkirakan jarak. Kendaraan yang sebenarnya sudah dekat bisa baru terlihat ketika jaraknya sudah terlalu pendek. Dalam situasi seperti ini, kecepatan tinggi menjadi sangat berbahaya karena waktu yang tersedia untuk melakukan pengereman semakin sedikit.

Karena itu, langkah paling aman sebenarnya adalah tidak memaksakan perjalanan ketika jarak pandang sudah sangat terbatas. Jika perjalanan tidak mendesak, pengemudi sebaiknya menunggu sampai kondisi membaik. Penundaan perjalanan jauh lebih aman dibandingkan memaksakan diri melewati ruas jalan yang tertutup asap.

Jika perjalanan memang harus dilakukan, kecepatan kendaraan harus diturunkan dan disesuaikan dengan jarak pandang. Tidak ada angka kecepatan tunggal yang aman untuk semua kondisi karena tingkat kepekatan asap dan kondisi jalan dapat berbeda. Pengemudi harus memastikan masih memiliki cukup jarak untuk melihat dan mengantisipasi kendaraan maupun objek di depannya. Instruktur keselamatan berkendara juga sebelumnya mengingatkan bahwa ketika visibilitas terganggu, perjalanan sebaiknya ditunda; bila terpaksa melintas, pengemudi harus mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman.

Read More  Puluhan Juta Warga RI Masih Hidup Miskin, Jurang Kaya–Miskin Belum Sepenuhnya Tertutup

Lampu utama juga perlu dinyalakan agar kendaraan lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan lain. Untuk kendaraan yang memiliki lampu kabut, fitur tersebut dapat digunakan sesuai kondisi. Namun, lampu jauh atau high beam sebaiknya tidak digunakan sembarangan karena pantulan cahaya dari partikel asap dapat justru mengganggu pandangan pengemudi.

Pengemudi juga perlu memperbesar jarak aman dengan kendaraan di depan. Jangan mengikuti kendaraan lain terlalu dekat hanya karena ingin menjadikan lampu belakang kendaraan tersebut sebagai panduan. Kendaraan di depan dapat melakukan pengereman mendadak atau mengalami kecelakaan tanpa sempat terlihat dari jarak yang cukup.

Selain menjaga jarak, pengemudi sebaiknya menghindari manuver mendadak, termasuk berpindah jalur atau menyalip kendaraan lain jika kondisi pandangan tidak memungkinkan. Dalam kabut asap, pengemudi perlu lebih banyak mengandalkan marka jalan, rambu dan kondisi jalur yang terlihat, bukan memperkirakan posisi kendaraan berdasarkan ingatan semata.

Penggunaan lampu hazard juga perlu diperhatikan. Lampu hazard pada dasarnya digunakan ketika kendaraan berada dalam kondisi darurat, bukan sebagai lampu berkendara normal saat melewati kabut asap. Penggunaan hazard ketika kendaraan sedang berjalan dapat membingungkan pengguna jalan lain karena lampu sein tidak dapat digunakan untuk memberikan tanda ketika kendaraan hendak berbelok atau berpindah jalur.

Bagi pengendara sepeda motor, perlengkapan keselamatan tetap harus digunakan secara lengkap. Helm, jaket, sarung tangan dan sepatu tetap penting. Dalam kondisi kabut asap, perlindungan terhadap paparan asap juga perlu diperhatikan. Astra Motor Sumsel mengimbau pengendara memastikan kondisi fisik dan kendaraan dalam keadaan prima serta menggunakan respirator seperti N95 yang terpasang dengan baik untuk mengurangi paparan partikel halus.

Kondisi tubuh juga tidak boleh diabaikan. Kabut asap bukan hanya mengurangi jarak pandang, tetapi dapat membuat mata perih dan mengganggu pernapasan. Jika pengemudi mulai merasa sesak, pusing, mata sangat perih atau konsentrasi menurun, perjalanan sebaiknya dihentikan dan kendaraan diparkir di tempat yang aman.

Read More  Operasi Zebra 2025, Fokus Tindak Pelanggaran Anak di Bawah Umur dan Balap Liar

Pengecekan kendaraan sebelum perjalanan juga penting. Ban, rem, lampu dan bahan bakar harus dipastikan dalam kondisi baik. Dalam kondisi jarak pandang terbatas, sistem pengereman dan pencahayaan menjadi semakin penting karena pengemudi membutuhkan kendaraan yang responsif ketika harus menghadapi situasi tidak terduga.

Bagi pengemudi kendaraan besar seperti truk dan bus, kewaspadaan harus ditingkatkan lagi. Ukuran kendaraan dan panjang jarak pengereman membuat pengemudi membutuhkan ruang lebih besar untuk bereaksi. Dalam kondisi asap pekat, keputusan untuk mengurangi kecepatan atau berhenti sementara menjadi sangat penting.

Kecelakaan truk pengangkut sepeda motor di Kabupaten Banjar menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan kenyamanan perjalanan. Ketika jarak pandang turun, risiko kecelakaan dapat meningkat dan dampaknya bisa lebih besar karena melibatkan kendaraan dengan ukuran serta muatan yang berat. Polisi sendiri masih melakukan pendalaman terhadap penyebab kecelakaan tersebut.

Karena itu, prinsip utama ketika menghadapi kabut asap adalah jangan mengejar waktu dengan mengorbankan keselamatan. Kurangi kecepatan, nyalakan lampu utama, perbesar jarak aman, hindari menyalip, tingkatkan konsentrasi dan segera berhenti di lokasi aman apabila jarak pandang sudah terlalu buruk.

Perjalanan yang terlambat beberapa menit masih dapat dikejar. Namun, kecelakaan akibat memaksakan kendaraan melaju dalam kondisi jarak pandang terbatas dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar.

Back to top button